Gemuruh desisan jutaan ular dari balik sekat dinding kayu yang membeku mendadak surut dalam satu detik yang sama, menyisakan sebuah keheningan mutlak yang berkali-kali lipat lebih meneror pusat syaraf pendengaranku. Kesunyian baru yang merayap turun ini begitu pekat, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam ruang tengah rumah kami telah disita oleh sebuah eksistensi gaib yang bervolume teramat besar. Isak tangis ibu dan adik perempuanku yang semula melengking histeris seketika tercekik di tenggorokan; mereka tetap bersujud di atas tikar plastik yang dilapisi es tipis, memeluk buku yasin dan kain sajadah mereka dengan tubuh yang bergetar kaku dalam ketidaktahuan yang mampat. Di tengah-tengah hampa udara yang membeku itulah, fokus sepasang mataku dipaksa untuk bergerak secara mandiri, mengunci mati pada satu titik kegelapan di sudut ruang tamu, tepat di bawah bayangan lemari pajangan kuno yang tidak terjangkau oleh pendaran cahaya biru televisi.
Dari dalam kepekatan bayangan sudut ruangan itu, sepotong bayangan hitam perlahan-lahan mulai memadatkan wujud fisiknya.
Makhluk itu berdiri tegak, mendominasi ruang datar di sudut tembok dengan postur tubuh tinggi tegap yang teramat kukenal sejak aku masih kanak-kanak. Garis bahunya, lekuk dadanya yang membusung penuh wibawa, hingga cara berdirinya yang angkuh, semuanya menghadirkan sosok Rusdiana—pria yang selama puluhan tahun dipuja oleh penduduk desa Majalengka sebagai figur tanpa cela. Namun, ketika bayangan itu melangkah maju satu tindak, menerobos batas remang cahaya biru televisi yang berkedip-kedip nirdari, seluruh sisa fondasi logikaku yang tersisa hancur menjadi serpihan debu tak berarti.
Itu bukan lagi ayahku yang bersih dan wangi oleh minyak kesturi.
Wajah suci yang biasa membius ribuan jamaah di atas mimbar masjid desa kini telah hancur melumer, melepuh total akibat semburan bisa racun tingkat tinggi yang korosif. Daging pipinya yang hitam legam menggelayut busuk ke bawah serupa lilin yang diletakkan di atas kobaran api abadi Alas Kelam, memperlihatkan struktur tulang rahang dan tengkorak putih kekuningan yang retak-retak di beberapa bagian. Kedua kelopak matanya telah sirna; yang tersisa hanyalah sepasang bola mata kapur putih seutuhnya yang menonjol keluar, melotot lurus ke arah wajahku dengan pancaran penderitaan yang tidak memiliki batas akhir. Dari celah-celah daging hitamnya yang mengelupas dan bernanah, mengalir keluar cairan kental berwarna merah kehitaman yang langsung menetes membasahi permukaan ubin yang membeku, mengeluarkan hantaman aroma pembusukan organik yang teramat masif dan memualkan.
Bau jahanam ini adalah bau khas yang selama berhari-hari meracuni indra penciumanku; aroma anyir darah hangat bercampur uap nanah busuk dari sungai neraka mimpiku, yang kini mewujud nyata sebagai bau dari jasad ayahku yang sedang membusuk hidup-hidup di dua dimensi sekaligus.