Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #19

BAB 19: AMARAH JAJANG YANG PECAH

Langkah kakiku terhenti tepat di ambang pintu depan yang telah jebol berantakan. Aku tidak jadi melangkah keluar menembus kepekatan malam jumat yang gersang di luar pekarangan. Aku membalikkan tubuhku secara sentak, memutar poros ragaku kembali menghadap ke arah pusat ruang tamu tempat seluruh keluargaku masih meringkuk ketakutan bagai sekumpulan ternak yang menanti ajal. Sorotan sepasang mataku mengunci mati pada pemandangan di depanku, menyaksikan bagaimana ibu, adik perempuan, paman, dan bibiku masih terus-menerus bersujud di atas tikar, menenggelamkan wajah-wajah pucat mereka ke dalam kain sajadah sambil meratapkan bait-bait doa keselamatan yang kian melengking histeris.

Melihat pemandangan itu, seluruh sisa fondasi logikaku yang selama dua minggu ini kupertahankan dengan susah payah akhirnya hancur lebur, pecah menjadi serpihan-serpihan emosi yang teramat destruktif di dalam dada.

Aku tidak bisa lagi terus diam menerima kegilaan massal ini. Sesuatu di dalam pusat kesadaranku mendadak meledak, memicu amarah sekolosal gunung berapi yang telah lama mengendap di bawah tekanan mental yang merajam otak. Rasa perih dan membara di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku—luka melepuh berair yang mengeluarkan bau busuk nanah Alas Kelam—mendadak terasa seribu kali lipat lebih menyiksa, seolah-olah gumpalan dagingku yang membusuk dari dalam ikut mendesakku untuk memuntahkan seluruh kemarahan yang selama ini kukunci rapat di balik bibir yang kelu.

Aku menghempaskan gagang cangkul besi yang kupanggul di atas pundak ke atas lantai semen dengan satu sentakan kasar. Bunyi klanggg yang teramat nyaring dan memekakkan telinga bergaung keras, memotong paksa aliran ratapan doa dan isak tangis yang sedang dirapalkan oleh ibu. Sentakan fisik yang kasar itu berhasil memaksa seluruh anggota keluargaku untuk mendongakkan kepala mereka yang linglung, menatap ke arah posisiku berdiri dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh keheranan yang mampat dan ketakutan yang ganjil.

Berhenti menangis! Berhenti memanggil nama pria bajingan itu!

Aku berteriak lantang dengan karakter suara yang teramat parau, kasar, dan melengking tinggi hingga membuat urat-urat di leherku menonjol kaku bagai kawat besi. Suaraku mengguncang keheningan ruang tamu yang pengap, merobek dinding delusi kesucian yang selama ini mereka pelihara dengan kebutaan massal yang menjijikkan.

Lihat selengkapnya