Langkah kakiku tidak lagi membawa ragaku menerobos pekatnya kabut embun November di pekarangan depan. Sebuah sentakan logika yang mendadak waras di tengah sisa-sisa amuk kemarahanku memaksa sepasang lututku untuk kembali berbalik poros. Aku menyadari satu kecerobohan yang fatal; cangkul besi tua yang sempat kulemparkan di atas lantai semen ruang tamu tadi tidak akan cukup untuk menuntaskan misi pembalasan dendam ini. Jika Alas Kelam adalah sebuah dimensi peristirahatan terakhir yang terbuat dari langit api abadi dan rembesan nanah busuk, maka cara untuk memutus rantai jangkarnya di dunia sadar ini tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan otot untuk mengoyak tanah gembur. Aku membutuhkan sesuatu yang jauh lebih kuat, sebuah media pemurnian yang sanggup melumat habis seluruh sisa kontrak darah milik ayahku hingga menjadi abu tak berharga.
Aku melangkah lebar menembus lorong samping rumah yang pengap, mengabaikan suara ratapan ibu yang kian melengking histeris meratapi topeng kayu berdarah di atas tikar plastik ruang tamu. Tujuan sepasang kakiku kini terkunci mati pada bangunan gudang belakang—sebuah ruangan persegi kecil yang letaknya terisolasi di sudut paling belakang pekarangan, tepat di samping bilik kamar mandi semen yang beberapa jam lalu memuntahkan aliran air merah kehitaman dari lubang kerannya.
Udara di sekitar area gudang belakang terasa sangat gersang dan membara, kontras dengan sisa hawa dingin ubin ruang tengah yang sempat membeku. Kelembapan malam November seolah-olah telah menguap habis di titik ini, digantikan oleh gelombang tekanan panas tak kasat mata yang membuat kulit ari wajahku terasa perih bagai disayat pisau silet. Aku mendorong pintu kayu gudang yang tidak pernah dikunci itu dengan satu sentakan kasar. Bunyi berderit parau dari engsel besi yang berkarat menyayat kesunyian malam jumat, mengizinkanku untuk menembus masuk ke dalam ruang penyimpanan barang-barang bekas milik mendiang ayah.
Di dalam ruangan yang gelap dan dipenuhi oleh jaring laba-laba serta debu tebal, bau apak kayu lapuk berbaur menjadi satu dengan aroma sisa oli mesin yang dingin. Menggunakan tangan kanan yang gemetar hebat, aku meraba-raba permukaan meja kerja kayu yang berantakan di sudut ruangan, menyusuri deretan botol plastik dan kaleng bekas dengan insting seorang pemburu yang kian putus asa. Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku kian merajam pusat saraf otak, meletupkan cairan nanah baru yang mulai merembes basah menembus sekat kemeja merah marun yang kupakai. Borok melepuh ini terus-menerus mengirimkan sinyal rasa sakit yang matematis, mendesak jiwaku untuk bergerak lebih cepat sebelum seluruh tubuhku diubah menjadi gumpalan daging krispi oleh penguasa Alas Kelam.
jari tanganku mendadak menyentuh permukaan silinder plastik yang teramat familier di rak bagian paling atas. Aku mencengkeram leher botol tersebut, menariknya keluar dari kegelapan rahim gudang hingga terpapar oleh seberkas cahaya rembulan yang buram dari celah ventilasi.