Deru napas parauku yang menyemburkan uap putih di tengah pendakian sepi menuju bukit pemakaman desa mendadak melambat, terputus oleh sepotong memori lama yang mencuat paksa dari lipatan masa lalu. Langkah sepasang kakiku yang terseret di atas tanah gembur jalan setapak terasa kian berat, dibayangi oleh kilasan-kilasan ingatan yang mendadak melompat mundur ke masa sepuluh tahun yang lalu. Waktu seolah-olah berputar balik dengan sendirinya, merobek lapisan realitas malam jumat jahanam ini dan membawaku kembali ke sebuah hari Jumat yang cerah di bawah naungan atap masjid besar berkubah hijau desa Majalengka—sebuah masa di mana patung berhala kesempurnaan ayahku baru saja mencapai titik keemasannya yang paling berkilau.
Aku teringat saat diriku masih menjadi seorang remaja kerdil yang duduk bersila di barisan paling belakang saf jemaah, terhimpit di antara bahu-bahu kokoh para tetua kampung yang wangi oleh aroma minyak nyongnyong murah. Di depan sana, di atas mihrab masjid yang dilapisi ukiran kaligrafi emas yang megah, ayahku berdiri tegak di balik mimbar kayu jati tua yang angkuh.
Ia mengenakan jubah koko putih bersih berkerah tinggi yang tidak memiliki satu pun noda setitik pun, dengan peci hitam legam yang bertengger sempurna di atas keningnya. Wajahnya yang kala itu masih bersih tanpa guratan keriput yang berarti tampak memancarkan seberkas cahaya ketenangan yang teramat memukau. Ketika ia mulai membuka mulutnya untuk melontarkan bait-bait kalimat khotbah, karakter suaranya yang bariton mengalun dengan sangat jernih, jantan, dan sarat akan muatan kharisma penyejuk yang sanggup meredam seluruh desau angin siang hari di luar bangunan.
Semua mata manusia di dalam ruangan luas itu memandang ke arah mimbar dengan tatapan takjub yang teramat mampat. Para petani, buruh pabrik genteng, hingga kepala desa yang duduk di barisan depan tampak manggut-manggut penuh takzim, seolah-olah setiap kata, setiap artikulasi diksi, dan setiap gerakan tangan yang ayah tunjukkan adalah sebuah wahyu keselamatan yang turun langsung dari langit. Bagi seluruh penduduk desa Majalengka, Rusdiana bukan lagi sekadar seorang pemuka masyarakat biasa; beliau adalah perwujudan dari konsep kesucian itu sendiri, seorang wali suci berjalan yang seluruh tindak-tanduknya mutlak bersih dari sisa-sisa noda dan khilaf kemanusiaan fana.
Namun bagiku, Jajang Rusdiana kecil yang selalu mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan saf belakang, pemandangan keagungan itu tidak pernah membawa rasa bangga yang jujur.