Satu kilasan memori masa lalu kembali mencuat paksa dari dasar bawah sadarku, tertahan oleh rantai ingatan yang membawa jiwaku melompat mundur ke sebuah sore belasan tahun silam. Waktu seolah membusuk dan berputar balik, memindahkan raga kerdilku kembali ke ruang makan rumah tua kami yang pengap, sebuah ruang tempat di mana seluruh harga diriku sebagai seorang anak laki-laki dihancurkan menjadi serpihan debu tak berharga oleh standar tidak masuk akal yang dipelihara keluarga kami.
Aku teringat saat diriku yang masih mengenakan seragam sekolah dasar putih merah berlari kencang menembus pekarangan pekat, membawa selembar buku rapor dengan dada membusung penuh kebanggaan yang meledak-ledak. Tanganku yang kecil mencengkeram erat sampul plastik biru dokumen tersebut, sebuah bukti fisik otentik bahwa seluruh malam yang kuhabiskan untuk belajar di bawah pendaran lampu minyak watt kecil hingga mataku bengkak perih akhirnya membuahkan hasil. Aku berhasil menembus posisi peringkat tiga besar di kelas, sebuah pencapaian kolosal bagi seorang anak yang selalu dianggap lambat berhitung oleh teman-teman sebayanya. Di sepanjang jalan pulang, aku sudah menyusun puluhan baris kalimat bahagia di dalam kepala, membayangkan bagaimana ibu akan memelukku hangat dan ayah akan menepuk pundakku penuh takzim di depan meja makan.
Namun, kedamaian semu yang kubayangkan itu langsung runtuh berantakan begitu aku melangkah melewati ambang pintu dapur belakang dan menyodorkan buku rapor tersebut ke atas meja makan kayu yang terletak di tengah ruangan.
Ibu yang saat itu sedang sibuk menuangkan sayur pepes ikan ke dalam piring plastik mendadak menghentikan gerakannya. Ia meraih buku rapor biru itu dengan tangan yang dingin, menyipitkan sepasang matanya untuk menyisir angka-angka yang tertera di lembar halaman dalam selama beberapa detik yang teramat panjang dan menegangkan. Aku berdiri mematung di sampingnya dengan napas yang memburu liar, menanti seutas senyuman atau kata pujian yang sewajarnya keluar dari bibir seorang ibu kandung.
Bukannya pelukan hangat yang kudapatkan, indra pendengaranku justru dihantam oleh suara dengusan kecewa yang teramat pekat dari mulut ibu.
Ia menaruh kembali buku rapor itu ke atas permukaan meja dengan satu ketukan kasar yang meredam seluruh gemuruh kebahagiaan di dalam dadaku. Ibu memalingkan wajah tuanya, menatapku dengan sepasang mata yang dingin, datar, dan sarat akan penolakan mampat sebelum memotong semua kalimat bahagia yang sudah kusiapkan di tenggorokan dengan sebuah untaian kalimat yang teramat keji bagi mental seorang anak kecil.