Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #23

BAB 23: HINAAN DI DEPAN KERABAT

Langkah kakiku yang gemetar di atas hamparan rumput liar pekuburan bukit Majalengka mendadak tersendat, tertahan oleh satu lagi gelombang ingatan kelam yang mencuat paksa dari dasar bawah sadarku. Angin malam jumat yang gersang berdesir parau melewati celah-celah nisan batu, namun di dalam kepalaku, suasana mendadak bergeser mundur ke momen kumpul keluarga besar dua tahun lalu. Ruang tamu rumah kami saat itu begitu penuh, sesak oleh kehadiran paman, bibi, dan sepupu jauh yang duduk melingkar menikmati hidangan. Di bawah pendar lampu ruangan yang terang, teater penghancuran mentalku digelar sebagai menu utama yang dinikmati bersama dengan penuh suka cita.

Aku teringat bagaimana seluruh kerabat bergantian melempar puji-pujian yang teramat mampat kepada adik laki-laki dan kakak perempuanku. Mereka dipuja-puja karena memiliki karier yang mapan di kota besar, dianggap sebagai bibit unggul yang berhasil mewarisi kecerdasan dan garis keberuntungan Rusdiana. Namun, begitu pandangan mata semua itu bergulir dan berhenti di wajahku, aura kehangatan keluarga itu mendadak menguap, digantikan oleh jajaran senyum sinis yang merendahkan.

Bibi dan pamanku tanpa beban menjadikanku sebagai bahan olok-olok di tengah kepulan asap rokok dan tawa renyah mereka. Di depan semua orang, aku dicap sebagai produk gagal, seorang anak laki-laki yang tidak tahu diuntung dan hanya becus menjadi benalu yang menggelayut di ketiak ayahnya yang hebat. Kalimat-kalimat tajam itu dilemparkan seperti remah-remah makanan, menguliti sisa harga diriku hingga aku merasa sekecil debu yang menempel di ubin lantai. Mereka tidak pernah melihat seberapa keras aku berjuang mencari celah hidup; di mata mereka, keberadaanku hanyalah sebuah noda buram yang mengotori nama besar keluarga seorang wali suci desa.

Keputusasaan untuk membuktikan bahwa aku bukan seonggok sampah tak berguna akhirnya mendorongku nekat merintis usaha toko kelontong sendiri di pinggir pasar Majalengka. Aku menghabiskan seluruh sisa tabunganku dan meminjam sedikit uang modal awal, berharap bisa berdiri tegak di atas sepasang kakiku sendiri tanpa perlu terus-menerus merangkak di bawah bayang-bayang raksasa ayah. Namun, semesta tampaknya enggan berpihak pada anak yang kurang berbakat; usahaku hancur berantakan dalam hitungan bulan setelah seluruh modal itu habis ditipu mentah-mentah oleh rekan bisnisku sendiri yang membawa lari sisa barang dagangan.

Hari di mana toko itu gulung tikar adalah hari di mana duniaku benar-benar runtuh berkeping-keping. Alih-alih mendapatkan pelukan menenangkan atau segelas air hangat saat aku pulang membawa kekalahan, aku justru dihadang oleh amukan histeris ibu tepat di pekarangan depan rumah. Di hadapan para tetangga kampung yang keluar dari pintu rumah mereka untuk menonton, ibu mencaci maki diriku dengan volume suara yang melengking tinggi penuh kebencian yang mampat. Ibu berteriak tanpa rem, menuduhku sebagai anak sialan yang hanya tahu cara menghabiskan uang warisan dan kekayaan modal dari ayah tanpa pernah becus menghasilkan apa pun selain rasa malu. Jeritan ibu di sore hari itu menelanjangiku di depan sosiologis masyarakat, mengunci statusku sebagai pecundang abadi di desa kerdil ini.

Lihat selengkapnya