Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #24

BAB 24: TATAPAN SEISI DESA

Langkah kakiku yang gemetar di atas hamparan rumput liar pekuburan bukit Majalengka kembali tersendat, tertahan oleh satu lagi gelombang ingatan kelam yang mencuat paksa dari dasar bawah sadarku. Setiap kali aku terpaksa melangkah keluar rumah dan berjalan menyusuri gang-gang sempit di desa Majalengka, aku selalu merasa seolah-olah sedang berjalan menembus barikade pedang tak kasat mata yang siap menguliti harga diriku kapan saja.

Di sepanjang teras rumah tetangga, di balik rumpun bambu, atau di dekat warung kopi pinggir jalan, aku selalu mendengar bisik-bisik miring yang dilontarkan para warga secara konstan. Mereka tidak repot-repot menyembunyikan suara mereka; untaian kalimat itu sengaja dilemparkan dengan suara yang sanggup menembus dinding telingaku. Mereka bergantian mengasihani sang ayah, meratapi nasib seorang pemuka agama yang teramat mulia namun harus dikutuk karena memiliki anak sulung seperti diriku. Di mata masyarakat desa, aku dianggap sebagai seonggok sampah pengangguran, pemuda parasit yang tidak memiliki masa depan dan hanya becus menjadi noda hitam di atas kain putih bersih nama besar keluarga Rusdiana.

Setiap kali hantaman kalimat-kalimat menghakimi itu merajam mental pribadiku, aku hanya bisa mempercepat langkah kaki dengan kepala yang tertunduk sedalam mungkin menghadap permukaan tanah berdebu. jari tanganku di dalam saku celana jins lusuh akan mengepal begitu kuat hingga kuku-kukuku memutih, sementara aku mati-matian menahan buncahan air mata kekecewaan yang sudah menyumbat pangkal tenggorokanku yang terasa perih bagai terbakar. Rasa sesak itu terasa teramat mampat, sebuah beban emosional yang tetap kurasakan sejak masa remaja karena dipaksa berjalan di bawah bayang-bayang kegagalan yang tidak pernah kuinginkan seumur hidupku.

Kontras kehidupan kami kian terasa biadab ketika aku melihat bagaimana ayah memoles patung berhala kesempurnaannya di depan publik desa. Ayah adalah sosok sentral, figur teladan sejati yang hampir setiap minggu diundang oleh aparat kampung untuk mendamaikan sengketa tanah antarwarga atau pertikaian berdarah yang melibatkan antar-keluarga. Di atas dipan teras rumah atau di dalam balai desa yang padat, ayah akan duduk tegak memancarkan wibawa penuh yang begitu mendominasi udara sekitarnya. Tutur katanya yang mengalun santun dengan karakter suara bariton yang jernih selalu bertindak bak oase yang menyejukkan di tengah-tengah amukan amarah manusia-manusia urban Majalengka. Semua orang akan patuh, semua orang akan tunduk bersimpuh di bawah petuah bijaknya, mengunci statusnya sebagai wali suci pelindung desa yang mustahil memiliki cela dan cacat kemanusiaan fana.

Lihat selengkapnya