Langkah kakiku yang menyeret sandal jepit di atas hamparan tanah gembur pekuburan bukit Majalengka kembali tersendat, seolah-olah ditarik paksa oleh seutas benang tak kasat mata dari labirin masa lalu yang kian membusuk, memindahkan ragaku kembali ke ruang makan rumah tua kami beberapa tahun silam—sebuah area yang paling konsisten dalam mementaskan upacara penghancuran seluruh harga diriku sebagai seorang manusia.
Aku teringat kembali pada rutinitas meja makan yang sarat akan aroma masakan hangat ibu di sore hari. Setiap kali waktu makan tiba, ibu selalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk memasakkan hidangan-hidangan paling lezat dan paling mahal yang sanggup dibeli oleh modal usaha keluarga kami. Sayur pepes ikan mas yang bumbunya melimpah, gulai ayam kampung yang gurih kental, hingga jajaran takir lauk pauk yang digoreng garing, semuanya sengaja disajikan khusus dan ditumpuk mampat di depan piring nasi milik ayah dan adik-adikku. Ibu akan duduk di samping mereka dengan wajah yang sumringah penuh ketakziman, melayani setiap sendokan makan sang kepala keluarga seolah-olah sedang menghidangkan jamuan untuk seorang wali suci berjalan yang turun dari langit.
Namun, posisi piringku sendiri selalu diletakkan paling ujung, terisolasi jauh dari jangkauan takir lauk utama yang mewah tersebut. Ketika aku melangkah masuk dari arah pintu dapur belakang setelah seharian berjalan tak tentu arah mencari lowongan pekerjaan, aku sering kali hanya mendapati sisa-sisa makanan yang telah mendingin dan berantakan di atas meja. Kuah gulai yang sudah surut menyisakan endapan minyak kuning, atau potongan tulang ayam yang menyisakan sedikit serat daging kering, itulah menu konstan yang tersaji untuk menyumbat lambungku yang bergolak lapar.
Hantaman puncaknya terjadi pada suatu malam yang teramat mencekam bagi mental pribadiku. Aku yang baru saja kembali dengan tangan hampa setelah gagal dalam tes wawancara kerja, melangkah mendekati meja makan dan mengulurkan tangan untuk mengambil centong nasi dari dalam bakul anyaman bambu. Belum sempat butiran nasi itu menyentuh permukaan piring seng milikku, tangan kurus ibu mendadak bergerak cepat menepis jariku dengan satu sentakan yang teramat kasar dan tanpa perasaan. Ia menatap wajah pucatku dengan sepasang mata yang dingin, datar, dan sarat akan penolakan mampat sebelum mencetuskan sebuah kalimat yang langsung mengunci status kekalahanku di hadapan seluruh keluarga.