Satu kilasan memori terakhir mencuat paksa dari dasar bawah sadarku, waktu seolah membusuk dan berputar balik, memindahkan tubuh kerdilku kembali ke lorong depan kamar kerja milik ayah—sebuah ruangan misterius yang letaknya selalu terisolasi dan haram hukumnya dimasuki oleh siapa pun di dalam rumah tua kami.
Aku teringat saat diriku terbangun di sepertiga malam karena dorongan rasa haus yang mampat. Saat berjalan melewati lorong tengah yang gelap gulita, sepasang mataku tidak sengaja menangkap seberkas pendar cahaya lilin kuning samar yang keluar dari celah bawah daun pintu kamar kerja ayah yang biasanya selalu digembok rapat dari luar. Rasa penasaran yang ganjil mendadak merayap di selerang otakku, memaksa langkah kakiku untuk berjingkat tanpa suara mendekati permukaan kayu jati tersebut. Aku mencondongkan tubuhku yang kaku, menempelkan sebelah mata tepat pada celah lubang kunci kuningan yang sedikit retak demi mengintip apa yang sedang dilakukan oleh sang pemimpin sempurna di dalam kegelapan.
Pemandangan di dalam bilik kerja itu seketika membuat seluruh pasokan udara di dalam paru-paruku seolah terhenti.
Di bawah siraman cahaya lilin hitam yang bergoyang liar di sudut meja, aku melihat bayangan tubuh tinggi besar ayah sedang berada dalam posisi bersujud kaku di atas lantai semen telanjang. Pria itu tidak mengenakan sarung tenun atau bersujud di atas hamparan kain sajadah panjang yang biasa ia gunakan saat memimpin doa jamaah masjid. Ia bersujud langsung di atas permukaan lantai yang kotor, dengan kepala yang menempel mampat pada tanah. Yang membuat bulu kudukku berdiri tegak dengan rasa ngeri yang teramat dalam adalah pendengaran yang merayap keluar dari dalam kegelapan kamar tersebut. Bersamaan dengan gerakan napas ayah yang naik turun tak beraturan, sebuah suara desisan ular yang samar-samar namun teramat tajam terdengar bersahutan, seolah-olah ada puluhan ekor reptil tak kasat mata yang sedang merayap meliuk-liuk di bawah raga sucinya.
Sebelum pikiranku sempat mencerna kebiadaban penglihatan dan auditif tersebut, sebuah guncangan mekanis yang luar biasa masmas mendadak meruntuhkan seluruh pertahanan posisiku. Daun pintu jati kamar kerja itu tiba-tiba terbuka paksa dari arah dalam dengan satu dentuman parau yang menyayat sunyi.