Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #27

BAB 27: KAMBING HITAM KELUARGA

Langkah kakiku kembali tersendat di atas permukaan tanah gembur pekuburan bukit Majalengka yang kian bergolak pelan mengeluarkan kepulan asap hitam tipis berbau amis nanah hangat. Waktu seolah berputar balik, membawa jiwaku melompat mundur ke masa-masa setelah insiden penamparan di depan kamar kerja ayah beberapa tahun silam—sebuah masa di mana keberadaanku di dalam rumah tua kami sengaja diubah menjadi seonggok sampah tak berharga melalui upacara pengasingan yang teramat biadab.

Sejak hari di mana aku berteriak menceritakan desisan ular di dalam kamar kerja ayah dan pipiku dihantam tamparan keras oleh ibu, seluruh anggota keluarga besar resmi memperlakukan diriku layaknya seorang pesakitan yang mengidap penyakit menular yang menjijikkan. Adik-adik kandungku, yang dulunya sering kuberi tumpukan modal jajanan saat mereka kecil, mendadak memalingkan wajah dan menolak keras untuk berbicara atau sekadar menatap mataku jika kami berpapasan di lorong tengah yang gelap. Di mata mereka yang telah dibutakan oleh kesucian sang kepala keluarga, aku telah resmi dicap sebagai pembawa sial, seonggok kontras kotor yang sengaja hadir hanya untuk mengotori permadani kemuliaan nama besar Rusdiana.

Aku melewatkan hari-hari yang panjang dan dingin di dalam rumah sarat kepalsuan itu layaknya seekor hantu kelaparan yang tidak kasat mata oleh indra orang lain. Keberadaanku sama sekali tidak pernah dianggap ada atau dihargai; jika aku duduk di ruang tamu, mereka akan bangkit dan pindah ke ruangan lain tanpa sepatah kata pun penjelasan. Jika aku ikut mengantre di depan kamar mandi belakang, mereka akan memotong jalanku dengan pandangan mata yang sarat akan rasa jijik yang mampat. Aku hidup terisolasi di dalam sangkar ku sendiri, menelan semua rasa sepi, lapar, dan buncahan air mata kecewa yang menyumbat pangkal kerongkonganku hingga dadaku terasa sesak perih bagai terbakar api abadi.

Kejamnya perlakuan pilih kasih itu tidak berhenti pada pengasingan pasif. Rumah tua kami mendadak berubah menjadi sebuah pengadilan sepihak tempat di mana aku otomatis diposisikan sebagai kambing hitam abadi untuk setiap kesalahan kecil yang terjadi di bawah atap bangunan. Setiap kali ada barang perabotan rumah yang hilang, setiap kali ada perkakas dapur yang rusak karena usia, atau ketika tagihan modal usaha keluarga mengalami kendala, aku selalu menjadi orang pertama yang langsung ditunjuk, dituduh, dan disalahkan secara brutal oleh ibu dan saudara-saudaraku.

Lihat selengkapnya