Sepanjang hidupku yang kulalui dalam perasaan kalah, kerdil, dan gagal di bawah bayang-bayang kebesaran nama keluarga, aku tidak pernah tahu atau sanggup menalar bahwasanya seluruh kesuksesan finansial modal usaha, kharisma yang membius ribuan jemaah masjid, hingga tutur kata penyejuk yang dinikmati ayah selama hidup di bumi bersumber dari hal yang sangat mengerikan. Tidak ada satu jengkal pun tempat suci atau kebaikan murni yang melandasi status wali suci pelindung desa yang ia sandang di mata publik sosiologis masyarakat Majalengka. Di balik bilik kamarnya yang selalu digembok rapat dari luar, ayah telah menyembunyikan rapat-rapat sebuah kontrak darah gaib dengan penguasa Alas Kelam.
Kontrak darah jahanam itulah yang bertindak sebagai mesin penggiling mental yang membuatku selalu dijadikan kambing hitam , pemuda parasit pengangguran yang kurang berbakat, laksana seonggok noda hitam yang sengaja dipelihara hanya untuk mempertegas betapa putih bersihnya topeng kesempurnaan sang kepala keluarga. Ayah menukar seluruh jatah keselamatan raga dan jiwaku demi membeli kemuliaan fana di dunia, membiarkan tentara penagih utang neraka mengintai setiap langkah kakiku sejak masa remaja. Dan malam sebelum malaikat maut yang sesungguhnya datang menjemput jasadnya, masa kedaluwarsa dari perjanjian biadab itu rupanya telah menyentuh titik nol.
Aku teringat saat diriku dipanggil secara mendadak oleh ibu untuk memasuki kamar utama yang pengap oleh aroma minyak kesturi bercampur uap belerang yang samar. Di atas ranjang kayu jati yang besar, ayah yang biasanya selalu tegak memancarkan wibawa penuh kini tampak terbujur kaku dengan raga yang teramat ringkih dan pucat pasi. Napasnya turun naik dengan ritme yang sangat cepat, tersedak-sedak oleh udaranya sendiri serupa bunyi pompa rusak yang kehabisan pelumas di sepertiga malam yang sunyi. Sepasang matanya yang biasa teduh penuh kebijaksanaan kini melotot lebar penuh ketakutan yang teramat primitif, menatap lurus ke arah langit-langit kamar seolah-olah ia sedang menyaksikan bayangan dua makhluk berkepala ikan sedang mengangkat cemeti berpisau di atas kepalanya.
Begitu aku melangkah mendekati tepi ranjang, tangan kanan ayah yang kurus dan dipenuhi guratan urat kaku mendadak melesat maju dengan satu kecepatan mekanis yang tidak wajar. Ia mencengkeram erat pergelangan tangan kiriku dengan kekuatan yang sangat besar, sebuah jepitan sedingin es kutub yang langsung menghentikan aliran darah di sepanjang lengkanku. Cengkeramannya begitu brutal hingga kuku-kukunya yang panjang menusuk permukaan kulitku, memicu sensasi panas membara yang kelak akan bermutasi menjadi rentetan borok luka melepuh berair setelah kematiannya.