Seluruh jalinan kilas balik jahanam yang merantai pusat kesadaranku mendadak buyar seketika, pecah berkeping-keping laksana cermin kaca yang dihantam palu. Sentakan realitas yang teramat kasar melemparkan jiwaku kembali ke dunia sadar, memutus paksa pusaran memori tentang perlakuan pilih kasih ibu di meja makan, tatapan menghakimi seisi desa Majalengka, hingga cengkeraman sedingin es dari tangan ayah pada malam sebelum ia mengembustus napas terakhirnya. Pandangan mataku yang buram kembali mengunci pada objek-objek fisik yang nyata di sekelilingku. Aku tidak sedang berdiri di atas gundukan tanah pekuburan bukit yang berasap hitam; tubuh kerdilku nyatanya masih berada di dalam bilik gudang belakang rumah kami yang pengap dan dipenuhi debu tebal.
Pukul tiga pagi lewat beberapa menit. Angka merah di jam dinding digital kecil yang samar-samar terlihat dari celah pintu gudang seolah-olah mengunci waktu penentuan ini dengan kepastian yang teramat dingin.
Aku berdiri mematung di tengah kegelapan gudang tua milik mendiang ayah, dengan kedua telapak tangan yang mencengkeram gagang kayu sebilah cangkul besi erat dan kaku. Air mata kemarahan yang sarat akan akumulasi luka masa lalu perlahan-lahan meleleh membasahi pipiku yang pucat, menitik jatuh di atas permukaan lantai semen gudang yang lembap. Narasi agung tentang kesucian, kebijaksanaan santun, dan status wali suci pelindung desa yang selama puluhan tahun ayahku pamerkan di atas mimbar masjid kini telah hancur total, lebur menjadi puing-puing kepalsuan yang menjijikkan setelah dihantam oleh rentetan teror mimpi buruk di dimensi Alas Kelam. Topeng kayu berdarah yang terselip erat di balik sabuk celana jins lusuhku terasa kian membara, memancarkan gelombang hawa panas yang seolah-olah mendesak jiwaku untuk segera mengakhiri sandiwara yang memuakkan ini.
Cukup, Jajang. Selesai sudah waktu bagi dirimu untuk meringkuk ketakutan di sudut kamar gelap sambil memeluk lutut menahan ngilu patahan tulang imajiner. Kebutaan massal yang dipelihara oleh ibu dan adik-adikmu di ruang depan adalah benteng yang tidak akan pernah bisa menyelamatkan raga kalian dari bahaya melepuh menjadi nanah abadi. Jika seluruh kesuksesan finansial modal usaha dan wibawa penuh yang ayah nikmati di dunia Majalengka ini ternyata berasal dari hasil persekutuan keji yang menukarkan garis takdir masa depanku, maka aku memiliki hak mutlak untuk menuntut pengembalian harga diriku yang telah ia hancurkan sejak aku masih berupa janin di dalam kandungan.