Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #30

BAB 30: GERBANG PEMAKAMAN YANG SUNYI

Langkah kakiku yang terseret di atas tanah berbatu akhirnya membentur batas akhir dari pelarianku malam ini. Aku berhenti tepat di depan gerbang kayu pemakaman desa Majalengka—sebuah struktur pembatas tua dari bilah-bilah kayu jati yang telah lapuk dimakan usia, berlumut, dan posisinya sudah condong miring laksana dinding sangkar yang menanti mangsa. Di sekelilingku, pekatnya malam bulan November menggantung teramat tebal, menelan seluruh perimeter bukit pekuburan ke dalam pelukan kegelapan yang pekat. Angin malam berdesir lirih, menyelinap di antara celah-celah daun pohon kamboja tua, membawa seuntai kombinasi aroma yang langsung melumpuhkan indra penciumanku; bau harum bunga melati yang menusuk hidung mendadak bertubrukan langsung dengan uap anyir darah segar bercampur bau busuk nanah hangat.

Bau jahanam ini adalah penanda wilayah yang teramat mampat. Ini adalah aroma eksklusif dari sungai penderitaan di Alas Kelam, yang kini telah resmi merembes keluar membanjiri ruang realitas pekuburan desa. Suasana di sekitar perbukitan Majalengka ini begitu sunyi, jenis kesunyian yang terasa hampa, kosong, dan menindih, seolah-olah seluruh makhluk hidup, serangga malam, hingga tonggeret di sela-sela rumpun bambu sedang sengaja menahan napas mereka. Semesta seolah sedang menyaksikan dengan tatapan ganjil yang dingin atas seluruh kenekatan gila seorang anak laki-laki kerdil yang malam ini datang membawa sebilah cangkul besi demi mengusik peristirahatan terakhir ayahnya sendiri.

Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat seketika meledak kembali di sepanjang lengan kiriku, menjalar melewati sekat balutan kain kassa dan kemeja merah marun yang kupakai. Gelembung-gelembung melepuh berair di bawah kulitku terasa bagai mendidih penuh dengan cairan kuning baru yang merembes basah, seolah-olah gumpalan dagingku yang membusuk dari dalam ikut bereaksi liar merespons aroma nanah abadi yang menguap dari balik gerbang kayu. Topeng kayu berdarah yang kuselipkan erat di balik sabuk celana jins lusuhku kian membara, memancarkan gelombang hawa panas yang begitu pekat hingga membuat kulit pinggangku terasa disayat-sayat perih bagai dihantam oleh sabetan cemeti berpisau milik algojo berkepala ikan.

Menggunakan tangan kanan yang gemetar hebat, aku menyalakan senter baterai besar milik almarhum ayah yang sejak sore tadi kuselipkan di saku celana. Seberkas cahaya putih yang tajam dan pekat melesat keluar, membelah kabut embun tebal yang merayap rendah menyapu permukaan tanah basah. Di bawah siraman temaram cahaya senter manusia tersebut, aku mendorong daun gerbang kayu tua itu hingga terbuka dengan bunyi derit panjang yang parau dan menyayat sunyi, seolah-olah pintu neraka Alas Kelam yang sesungguhnya baru saja mengizinkanku untuk menembus masuk ke dalam rahim kegelapannya.

Aku melangkah maju dengan gerakan yang kaku, menyeret langkah jepitan sandalku di atas tanah gembur pekuburan yang terasa hangat dan lengket serupa gumpalan daging busuk. Cahaya senter di tanganku bergerak liar, menyisir deretan nisan-nisan tua yang tertanam acak-acakan laksana jajaran gigi monster yang patah. Di sekelilingku, gundukan-gundukan tanah makam tampak sunyi dan membeku dalam kedamaian yang netral, sangat kontras dengan pusaran energi negatif yang kian menjepit rongga dadaku seiring langkah kakiku yang bergerak makin jauh ke sudut barat pekuburan.

Lihat selengkapnya