Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #31

BAB 31: AYUAN CANGKUL PERTAMA

Mata besi cangkul yang kuangkat tinggi-tinggi di atas kepala akhirnya melesat turun, membelah pekatnya kabut embun November yang merayap rendah di sudut barat pekuburan bukit Majalengka. Aku mengerahkan seluruh sisa tenaga dari otot-otot lenganku untuk menghantamkan alat pertanian itu tepat ke pusat gundukan makam yang sedang mengeluarkan asap hitam tipis berbau amis. Pikiran dan jiwaku telah terkunci mati pada satu target tunggal. Aku tidak peduli lagi pada mitos kutukan, tidak peduli pada peringatan juru kunci makam Aki Sobar, dan persetan dengan seluruh sosiologis masyarakat desa yang menyembah berhala kesucian palsu pria yang bersemayam di dalam perut bumi ini.

Blup!

Bunyi yang keluar dari hantaman pertama itu teramat aneh, parau, dan langsung mengirimkan getaran ganjil yang merayap naik melalui gagang kayu cangkul hingga menyengat telapak tangan kananku. Tanah gembur itu sama sekali tidak terasa keras laksana tanah pekuburan pada umumnya. Rekahan tanah merah yang baru berusia belasan hari itu terasa teramat empuk, lembek, dan berlendir, memberikan sensasi resistensi mekanis yang serupa dengan tekstur tumpukan daging busuk yang sudah hancur mengelupas. Setiap kali mata besi cangkul itu terbenam ke dalam tanah, uap panas belerang bercampur aroma anyir nanah abadi meluap berkali-kali lipat lebih pekat, menyumbat rongga dadaku hingga aku harus bernapas tersedak-sedak menahan mual yang hebat.

Bersamaan dengan terkoyaknya lapisan tanah merah yang bergolak pelan tersebut, sebuah guncangan kolosal mendadak meledak di angkasa. Suara guntur menggelegar dahsyat dengan dentuman yang memekakkan telinga, membelah langit malam bulan November yang pekat tanpa ada bintang setitik pun. Kilatan cahaya petir yang keperakan menyambar sekilas, menerangi permukaan batu nisan kayu bertuliskan nama Rusdiana dengan pendaran visual yang teramat menyeramkan sebelum semesta kembali dijatuhkan ke dalam pelukan kegelapan yang pekat.

Aku memejamkan mataku seerat mungkin selama satu kedipan panjang, menghalau cipratan tanah merah basah yang mengenai pelipisku yang pucat. Aku menolak untuk mundur. Aku mengabaikan seluruh rasa takut primitif yang mencoba melumpuhkan persendian kakiku. Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku justru kian membara, mengirimkan gelombang energi rasa sakit yang konstan langsung menuju pusat saraf otakkuku. Borok melepuh berair yang mengeluarkan cairan kuning itu, berpadu dengan rentetan ingatan luka masa lalu tentang perlakuan pilih kasih ibu di meja makan dan kata-kata halus ayah yang mematikan mental, mendadak berubah menjadi sebuah bahan bakar kekuatan penuh yang merajam seluruh otot lengan dan pundakku.

Teruslah menggelegar, wahai langit terkutuk. Aku tidak akan pernah berhenti mencangkul sebelum aku menelanjangi seluruh kebusukan dosa pria bajingan yang kau sembunyikan di dalam rahim bumi ini. Seluruh hidupku yang kulalui dalam perasaan berjalan di bawah bayang-bayang kegagalannya, dicap sebagai produk gagal yang kurang berbakat oleh paman dan bibi, ternyata hanyalah sebuah sandiwara murah yang dibeli menggunakan mata uang persekutuan jahanam penguasa Alas Kelam. Ayahmu telah menukar garis takdir masa depanku demi memoles topeng kesempurnaannya di dunia, dan malam ini, aku datang sebagai eksekutor mandiri yang akan memutus paksa rantai utang darah tersebut menggunakan sebilah cangkul besi dan sebotol minyak tanah di saku celanaku.

Lihat selengkapnya