Guncangan guntur yang semalam membelah langit bulan November yang pekat tanpa bintang kini menyisakan keheningan baru yang teramat menindih di atas pekuburan bukit Majalengka. Bersamaan dengan suara desisan halus dan rintihan tangis teredam ayahku yang terus merayap naik dari dalam lubang galian setengah meter, awan-awan hitam yang menggantung rendah di angkasa mendadak menumpahkan gerimis. Rintik cairan mulai berjatuhan satu per satu, menghantam dedaunan kamboja tua dan membasahi permukaan nisan kayu bertuliskan nama Rusdiana yang sudah condong miring.
Namun, begitu sepotong cairan gerimis itu mendarat di atas kulit ari wajah dan punggung tanganku, seluruh saraf di tubuhku seketika menegang kaku bagai batu.
Cairan yang jatuh dari langit malam jumat ini sama sekali tidak terasa dingin atau menyegarkan laksana air hujan biasa. Sentuhannya terasa teramat kental, lengket, dan memancarkan hawa hangat yang menjijikkan saat merembes di sela-sela pori-pori kulitku. Bersamaan dengan itu, sebuah hantaman aroma yang teramat masif langsung menyeruak keluar memenuhi seluruh perimeter pekuburan yang sunyi; bau amis darah segar bercampur uap busuk nanah abadi. Merah pekat itu menumpah deras dari langit yang hampa, melumuri kemeja flanel merah marun yang kupakai, mengalir melewati pelipisku, dan langsung membanjiri lubang galian makam hingga tanah yang empuk laksana daging busuk di bawah kakiku berubah menjadi genangan lumpur darah yang bergolak pelan.
Ini adalah wujud kebiadaban berikutnya yang dilepaskan oleh Alas Kelam untuk menghancurkan sisa-sisa sel otakku. Dimensi terkutuk tempat ayahku menjalani hukuman gilingan batu raksasa kini telah benar-benar meluap sepenuhnya, mengubah cuaca bumi Majalengka menjadi pertunjukan teater neraka yang biadab. Cairan amis merah pekat itu mulai mengalir masuk ke dalam sudut kelopak mataku, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat dan mengaburkan jarak pandanganku di bawah siraman temaram cahaya senter baterai besar yang tergeletak di atas tanah.
Aku mengepalkan rahangku kuat-kuat hingga gigiku berkerut parau, menyeka aliran darah hangat di wajahku menggunakan punggung tangan dengan satu sentakan kasar. Aku menolak untuk menyerah pada rasa mual yang kembali mendesak hebat di pangkal kerongkonganku. Aku mengabaikan cairan amis yang membutakan pandanganku; tangan kanan dan kiriku kian mempererat cengkeraman pada gagang kayu cangkul besi tua, lalu kembali mengayunkan mata besinya yang tajam ke bawah dengan ritme gerakan yang berkali-kali lipat lebih brutal dan penuh dengan tenaga dendam masa kecil yang membara.
Blup... Blup... Jlebbb...