Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #33

BAB 33: SENTUHAN UJUNG SEKOP

Kepungan belasan bayangan hitam bermata merah yang berdiri mematung di balik jajaran pohon kamboja tua tidak membuat ayunan tanganku melemah. Di bawah siraman gerimis darah kental yang terus menumpah deras dari langit November yang tanpa bintang, aku terus memacu sisa energi di dalam tubuhku untuk menghantamkan mata besi cangkul ke dalam lumpur merah yang berlendir. Kedalaman lubang galian makam ayah kini sudah kian mampat, menenggelamkan raga kerdilku jauh di bawah permukaan tanah pekuburan desa Majalengka. Setiap kali otot lengan dan pundakku bergerak naik turun, rasa terbakar dari borok melepuh berair di lengan kiriku menyemburkan gelombang nyeri berdenyut yang teramat pekat, laksana bara api tak kasat mata yang kian menguliti gumpalan dagingku dari dalam sekat kain kassa.

Tok!

Bunyi benturan benda padat yang teramat kering, pendek, dan solid mendadak bergaung parau dari arah dasar lubang galian, memotong paksa seluruh gemuruh suara desisan ular imajiner yang sejak sore merajam rongga kepalaku. Getaran mekanis dari benturan itu merayap naik melalui gagang kayu cangkul, menyengat telapak tangan kananku dengan satu kepastian yang membuat seluruh aliran darah di tubuhku seketika membeku kaku bagai batu.

Mata besi cangkulku baru saja menghantam permukaan papan kayu penutup keranda di kedalaman dua meter di bawah tanah pembusukan.

Aku seketika melepaskan cengkeraman tanganku pada gagang cangkul, membiarkan alat pertanian tua itu terlempar jatuh begitu saja menabrak dinding tanah galian. Tanpa memedulikan sisa siraman gerimis darah kental yang kian deras melumuri kemeja flanel merah marunku atau membutakan pandangan mata, aku langsung menjatuhkan kedua lututku ke atas ubin tanah basah yang becek. Aku berlutut di dalam ruang sempit yang pengap itu, memosisikan raga pucatku tepat di atas koordinat tempat jasad sang pria sempurna terbujur kaku di dalam rahim bumi.

Aku tidak lagi menggunakan alat bantu apa pun. Aku menjulurkan kedua tangan telanjangku ke depan, mulai mengoyak dan membersihkan sisa-sisa lapisan tanah gembur yang masih menutupi permukaan papan keranda dengan satu gerakan sentak yang penuh dengan kegilaan mental yang kian kehilangan kendali remnya. Jemari tangan kanan dan kiriku bergerak liar, mencakar-cakar tanah merah berlendir yang terasa empuk laksana tumpukan daging busuk yang hancur mengelupas.

Lihat selengkapnya