Semburan uap busuk belerang dan nanah abadi yang sempat melumpuhkan paru-paruku perlahan mulai memudar, tersapu oleh kepasrahan yang dingin di dalam jiwaku. Aku memaksakan kelopak mataku yang perih akibat siraman gerimis darah kental untuk kembali terbuka lebar. Di bawah sisa pendaran cahaya senter baterai besar yang kian meremang di tepi lubang, aku condong maju kembali ke depan rekahan papan kayu keranda jati yang telah berhasil kucongkel paksa. Menggunakan sisa-sisa tenaga dari otot-otot lenganku yang gemetar hebat, aku menyentak sisa bilah papan penutup lainnya hingga terlempar hancur menabrak dinding galian sedalam dua meter ini.
Di dasar liang lahat yang sempit dan pengap itu, jasad ayahku akhirnya terpampang nyata, terbaring kaku di bawah siraman cairan merah yang menumpah dari langit malam jumat.
Namun, pemandangan pertama yang menangkap sorotan mataku langsung memicu rentetan ngeri yang teramat liar di sepanjang tulang belakang. Kain kafan yang lima hari lalu kulihat dibalutkan dengan sangat putih bersih, rapi, dan wangi oleh minyak kesturi oleh para tetua adat Majalengka, kini telah mengalami mutasi yang menjijikkan. Lembaran kain mori itu telah berubah warna menjadi hitam legam laksana arang yang terbakar, lapuk, dan dipenuhi oleh jajaran bercak kerak darah kering kuno serta lendir kuning kehijauan yang menguapkan aroma pembusukan Alas Kelam. Rumah abadi yang ia huni di bawah tanah ternyata langsung menelanjangi seluruh kain pelindung kesucian palsunya menjadi seonggok bungkusan terkutuk yang mengerikan.
Yang membuat saraf-saraf di dalam kepalaku kian retak total adalah kenyataan makro pada bagian ujung atas bungkusan jasad tersebut. Bagian kepala kain kafan hitam legam itu tampak bergerak-gerak pelan dengan gerakan yang teratur, meliuk kaku serupa ada seonggok makhluk hidup bervolume kecil yang sedang menggeliat berusaha merayap keluar dari balik lipatan kain mori yang lapuk. Bunyi desisan ular yang teramat halus dan lirih kembali menyelinap keluar dari sela-sela kain, bergaung tepat di balik gendang telingaku, seolah-olah mengonfirmasi kehadiran tentara penagih utang darah yang bersarang di dalam rongga tengkorak sang penipu ulung.
Aku menjatuhkan kedua telapak tangan telanjangku di atas pinggiran kain kafan yang terasa hangat membakar kulit ari jemariku. Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat dari luka melepuh berair di lengan kiriku kian mendidih liar, merembeskan cairan nanah baru yang membasahi kemeja merah marun yang kupakai. Aku tidak menarik mundur sepasang tanganku yang gemetar hebat. Aku memajukan wajah pucatku, meraih jalinan simpul tali pengikat kain kafan di bagian ujung kepala jasad ayah dengan jemari yang kaku didera ketakutan.