Pendaran bola mata kapur putih seutuhnya yang melotot dari wajah lumer ayahku tidak membuat tubuhku lumpuh untuk kedua kalinya. Rasa ngeri yang teramat sangat yang sempat melemparkan tubuhku terjungkal ke belakang kini telah habis menguap, terbakar oleh luapan amarah yang dingin, tajam, dan penuh dengan hasrat konfrontasi yang nekat. Di bawah siraman gerimis darah kental yang kian deras menumpah dari langit malam jumat bulan November, aku kembali memajukan posisi berlututku di atas ubin tanah galian yang becek. Sepasang mataku yang perih menyisir ke bawah, menembus sisa-sisa kain kafan hitam legam yang telah tersingkap lebar di dasar liang lahat sedalam dua meter ini.
Didorong oleh satu kegilaan mental yang kian kehilangan kendali remnya, aku memberanikan diri untuk memeriksa penampakan fisik jasad sang penipu ulung dengan tingkat kejelasan yang lebih makro.
Tepat di bagian tengah dada jasad ayah, lembaran kain kafan yang mengelingkarinya tampak robek kasar, terkoyak dari arah dalam seolah-olah ada sebuah kekuatan bervolume besar yang sengaja mendobrak keluar dari balik tulang rusuknya. Kulit dada pria yang selama puluhan tahun dipuja seisi desa Majalengka sebagai figur teladan tanpa cela itu kini telah terkelupas berantakan, menyisakan jalinan daging hitam membusuk yang mengelupas menjijikkan. Dan di sela-sela anatomi tubuh yang rusak tersebut, bersemayam sebuah rahasia keji yang seketika membuat seluruh pasokan udara di dalam paru-paruku seolah terhenti kaku.
Ada sebuah ukiran gaib berbentuk kepala ular kobra bersisik ikan yang tertanam langsung, menyatu dengan struktur tulang rusuk dadanya. Ukiran kuno itu tidak mati laksana rajah tato manusia biasa; simbol jahanam tersebut tampak bergerak-gerak secara mikroskopis, berdenyut pelan dalam frekuensi yang konstan serupa detak jantung monster yang sedang tertidur. Di sela-sela sisik ikannya yang legam, mengalir rembesan cahaya merah redup yang sewaktu-waktu berpendar liar, memantulkan bayangan reptil yang mengerikan di atas dinding-dinding tanah galian yang basah oleh cairan amis.
Ini adalah bentuk fisik sejati dari seluruh bual dan kepalsuan pribadi yang selama ini ayah sembunyikan rapat-rapat di balik topeng kesempurnaan dan kharisma penyejuknya di dunia fana. Ukiran ular kobra bersisik ikan di dadanya adalah lambang kepemilikan mutlak dari penguasa Alas Kelam, sebuah sertifikat jahanam yang ia tanam ke dalam tubuhnya demi mencuri wibawa penuh, prestasi juara satu, serta kelimpahan modal usaha yang membuatnya bisa berdiri angkuh menghancurkan mental pribadiku sejak masa remaja. Simbol itu terus menyedot seluruh jatah keselamatan raga dan jiwaku, memindahkan borok luka melepuh berair di lengan kiriku sebagai bentuk biaya administrasi neraka yang harus kubayar seumur hidup.