Cairan minyak tanah di dalam botol sirup bekas yang sudah kubuka tutupnya hampir saja kutumpahkan ke atas rongga dada jasad ayahku yang terkelupas. Namun, sebelum cairan bening itu sempat membasahi ukiran gaib berbentuk kepala ular kobra bersisik ikan yang sedang berdenyut mengeluarkan cahaya merah redup, sebuah gerakan mekanis yang teramat biadab meledak dari dalam sela-sela tulang rusuknya. Lapisan daging hitam membusuk di sekeliling simbol jahanam itu mendadak robek melebar, memuntahkan gumpalan lendir kuning kehijauan yang mengalir deras serupa air bah dari dalam rahim perut bumi.
Dari balik robekan daging dada jasad sang penipu ulung, puluhan ekor ular sanca kecil berwarna merah darah tiba-tiba merangsek keluar secara massal.
Hewan-hewan melata itu bergerak dengan kecepatan yang teramat liar, sinkron, dan dipenuhi oleh hasrat agresi yang sangat mematikan. Mereka tidak merayap ke luar lubang galian; melainkan langsung meluncur menembus lumpur becek di dasar makam sedalam dua meter ini, lalu membelit sepasang kaki jepitan sandalku dengan lilitan yang teramat kencang dan sedingin es kutub. Sensasi jepitan sisik-sisik mereka yang kasar langsung terasa menyengat kulit pergelangan kakiku, memancarkan gelombang radiasi dingin yang seketika melumpuhkan seluruh pergerakan persendian tubuhku.
Lilitan puluhan ular sanca merah darah itu bukan sekadar jepitan mekanis biasa. Mereka memiliki bobot kumulatif yang luar biasa masif, bergerak bersama-sama dengan satu tarikan bertenaga sekolosal batu raksasa untuk menyeret raga kerdilku agar jatuh terjungkal ke bawah, masuk ke dalam dekapan kaku jasad ayah yang sedang melotot putih tanpa kornea. Rongga dada jasad itu seolah-olah telah bermutasi menjadi sebuah mulut lubang hitam yang menganga lebar, siap menelan bulat-bulat seluruh raga dan jiwaku ke dalam rahim dimensi Alas Kelam yang sesungguhnya.
Aku melepaskan satu teriakan histeris yang teramat parau, sebuah lolongan ketakutan berbaur kemarahan yang akhirnya meledak bebas merobek kesunyian pekuburan bukit Majalengka. Botol minyak tanah di tangan kananku terlempar jatuh, pecah berantakan menghantam pinggiran keranda jati hingga cairannya mengalir sia-sia membasahi kain kafan hitam yang lapuk. Aku mati-matian menolak untuk menyerah pada tarikan jahanam tersebut. Menggunakan sisa-sisa tenaga dari otot kaki dan pundakku, aku berusaha sekuat tenaga untuk menendang, menghempaskan, dan mengoyak tubuh-tubuh hewan melata berwarna merah darah itu dengan tangan telanjang.
Kraaakkk... Ssssshhhh...
Setiap kali aku mencoba menyentak kakiku, lilitan ular-ular sanca kecil itu justru kian mengencang rapat, memicu rasa nyeri berdenyut yang meremukkan susunan tulang pergelangan kakiku. Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat di sepanjang lengan kiriku—borok melepuh berair yang kian membengkak kaku di balik sekat kain kassa—terasa kian mendidih liar, seolah-olah cairan nanah Alas Kelam di bawah kulitku sedang ikut memeras seluruh sisa kewarasanku yang kian menipis di sepertiga malam jumat ini. Di sekeliling lubang galian, belasan bayangan hitam bermata merah yang mengepungku di balik pohon kamboja tua kian melepaskan suara desisan rendah yang nyaring, merayakan detik-detik kejatuhanku ke dalam jebakan warisan dosa milik ayah.