Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #37

BAB 37: PENJELASAN YANG MENGERIKAN

Pusaran angin puyuh yang menyembur dari dalam robekan dada jasad ayahku kian menderu kencang, mengitari ruang sempit galian makam sedalam dua meter dengan kecepatan mekanis yang membuat seluruh tubuhku gemetar kaku. Pendaran cahaya merah pekat dari ukiran kepala ular kobra bersisik ikan di sela-sela tulang rusuknya tampak memantulkan siluet distorsi yang mengerikan pada dinding tanah basah. Di atas bibir lubang, Aki Sobar masih berdiri kokoh memegangi obor bambunya yang menyala-nyala besar, memancarkan cahaya kuning terang yang menelanjangi kepasrahan raga kerdilku di dasar liang lahat.

Dengan suara yang teramat bergetar didera oleh kegetiran yang mendalam, Aki Sobar mulai mengeluarkan untaian kalimat penjelasannya yang langsung meremukkan seluruh sisa fondasi logikaku yang tersisa.

Jajang, ayahmu bukan seorang manusia mulia seperti yang dipuja oleh seisi kampung. Rusdiana telah menggadaikan keselamatan dirimu sejak kau masih berupa janin di dalam kandungan rahim ibumu. Ia melakukan perjanjian darah keji dengan penguasa Alas Kelam, menukar seluruh garis takdir kesuksesan, kharisma yang membius ribuan jemaah masjid, hingga wibawa penuhnya di dunia Majalengka ini demi sebuah kejayaan semu. Kesempurnaan mutlak yang ia pamerkan selama berpuluh-puluh tahun di bumi sebenarnya adalah hasil dari sebuah tumbal darah, sebuah biaya administrasi jahanam yang pembayarannya secara sengaja ia bebankan ke atas pundak anak sulungnya sendiri. Utang darah itu harus kau bayar lunas dengan cara membiarkan jiwamu diseret masuk ke dalam dimensi Alas Kelam setelah ia mati menemui ajalnya.

Kalimat parau Aki Sobar meluncur laksana rentetan bilah belati panas yang menghujam tepat ke pusat harga diriku sebagai seorang anak laki-laki dewasa. Pikiran di dalam benak bawah sadarku meledak dalam sebuah amuk kemarahan yang teramat dingin dan hampa di sepertiga malam jumat ini. Pengkhianatan. Sebuah kata tunggal yang kini menjelma menjadi kenyataan fisik nyata yang paling biadab di bawah perut bumi. Pria yang selama berpuluh-puluh tahun kuhormati sebagai bayang-bayang raksasa yang mustahil kuraih, ternyata adalah seorang bajingan egois yang sengaja merancang kelumpuhan hidupku demi membeli topeng kesucian dirinya sendiri di depan publik sosiologis masyarakat urban.

Aki Sobar memajukan posisi obor bambunya beberapa senti ke arah bawah, menatap lurus ke arah sepasang mataku yang pucat dengan pancaran pandangan mata yang kian putus asa sebelum melanjutkan untaian bisikan kutukannya yang kian menjepit rongga dada.

Lihat selengkapnya