Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #38

BAB 38: GERBANG ALAS KELAM TERBUKA

Pondasi tanah gembur di kedalaman dua meter di bawah permukaan pekuburan bukit Majalengka mendadak kehilangan seluruh struktur solidnya. Cahaya merah redup yang semula hanya berdenyut pelan dari balik rekahan ukiran kepala ular kobra bersisik ikan di dada jasad ayahku, dalam hitungan milidetik langsung membesar secara eksponensial, meluas, dan memuntahkan pendaran radiasi pekat yang membutakan sepasang mataku. Sentakan energi negatif itu merobek jalinan daging hitam membusuk dan susunan tulang rusuk sang penipu ulung, mentransformasikan seluruh area keranda jati menjadi sebuah pusaran lubang hitam tak berujung yang menganga lebar tepat di bawah kedua telapak kaki jepitan sandalku.

Bersamaan dengan runtuhnya dimensi tanah bawah, seonggok hawa panas berkekuatan seribu derajat menyembur keluar tanpa aba-aba dari dalam rahim lubang hitam tersebut.

Hawa panggang yang luar biasa dahsyat itu langsung melesat naik, membakar habis sisa-sisa tanah kuburan yang becek oleh lumpur darah gerimis malam jumat, mengubah partikel air menjadi uap belerang kental yang hangus dalam sekejap mata. Kulit ari wajah dan leherku terasa bagai dikuliti hidup-hidup oleh kobaran tak kasat mata, sementara rasa terbakar di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku—borok melepuh berair yang selama berhari-hari menguras kewarasanku—mendadak meletup pecah secara massal, mengeluarkan cairan nanah busuk baru yang langsung menguap kering sebelum sempat menetes membasahi kemeja flanel merah marun yang kupakai.

Aku tidak lagi memiliki kemampuan mekanis untuk mengendalikan pergerakan tubuhku sendiri. Gaya gravitasi jahanam dari dalam gerbang Alas Kelam mulai menyedot seluruh raga pucatku ke arah bawah dengan daya tarik yang teramat masif dan konstan. Tarikan ektoplasma itu terasa lengket, mengikat erat pergelangan kakiku laksana cengkeraman tangan-tangan algojo nirdaging yang menuntut pemenuhan tebusan kontrak utang darah. Tubuh kerdilku perlahan-lahan mulai tersedot masuk, meluncur ke dalam pusaran dimensi terkutuk tempat di mana seluruh garis takdir masa depanku telah digadaikan oleh ayah demi membeli topeng kesempurnaan fana di dunia.

Di atas bibir lubang galian, di bawah siraman pendaran cahaya obor bambu yang kian bergoyang liar ditiup amuk angin November, Aki Sobar tampak memalingkan wajah tuanya yang memutih oleh katarak. Juru kunci makam tua Majalengka itu menutup sepasang matanya rapat-rapat dengan raut kepasrahan mampat yang teramat getir, menolak untuk menyaksikan pemandangan biadab saat raga anak sulung yang selalu dijadikan kambing hitam keluarga tersebut sepenuhnya hilang tertelan ke dalam perut bumi jahanam. Selamat tinggal dunia bual Majalengka. Selamat tinggal rumah penuh kepalsuan tempat ibu melontarkan caci maki tanpa perasaan di depan para tetangga seberang gang.

Lihat selengkapnya