Tubuhku menghantam permukaan tanah hitam berlendir dengan bunyi debuman parau yang langsung merontokkan sisa-sisa napas di dalam dadaku. Rasa sakitnya begitu solid dan nyata, sebuah kejutan mekanis yang seketika melumpuhkan seluruh pergerakan persendianku. Aku terjerembab kaku di atas tanah gembur Alas Kelam yang membara, merasakan hawa panas bumi neraka langsung meresap menembus serat-serat kemejaku yang kini telah hangus mengelupas menjadi abu. Langit di atas kepalaku tidak lagi menyajikan kepekatan November Majalengka yang sunyi; ruang angkasa di dimensi terkutuk ini sepenuhnya terbuat dari gumpalan api abadi yang bergulung-gulung liar, memancarkan gelombang panas.
Sentuhan hawa panggang sebesar itu langsung menguliti seluruh permukaan raga kerdilku dalam hitungan milidetik. Kulit ari di wajah, leher, dan dadaku seketika melepuh berair, membengkak kaku sebelum akhirnya pecah secara massal dan mengeluarkan rembesan cairan nanah amis yang tebal. Luka melepuh baru ini berpadu dengan borok lama di lengan kiriku yang kini ikut mendidih hebat di balik sekat kain kassa, menciptakan jalinan rasa perih berdenyut yang teramat pekat hingga aku merasa seolah-olah seluruh pasokan darah di tubuhku sedang diubah menjadi uap nanah yang mendidih. Aku megap-megap di atas tanah membara, menelan udara pengap yang sarat akan aroma belerang dan pembusukan organik yang teramat memualkan.
Di sekeliling tempatku terkapar kaku, lapangan luas Alas Kelam membentang tanpa batas bak sahara hitam yang mampat tanpa spasi kosong satu jengkal pun. Jutaan manusia berwujud kurus kering dan ceking tampak berkerumun padat, memenuhi setiap sudut dataran dengan jeritan-jeritan histeris yang memekakkan telinga. Tubuh-tubuh tak berdaya itu sedang digiling secara mekanis oleh mesin-mesin besi raksasa yang bergerak konstan berulang-ulang tanpa mengenal kata henti. Suara lindasan roda penggiling yang menghancurkan anatomi tulang bergaung susul-menyusul, memuntahkan gumpalan darah pekat dan cairan tubuh yang meledak dari balik kulit yang robek, sebelum akhirnya raga-raga hancur itu kembali utuh dalam hitungan menit untuk digilas kembali sampai mereka mati rasa. Tangis dan keputusasaan mereka telah habis menguap, hilang terbawa oleh pekatnya penderitaan yang tak bertepi di bawah langit api.
Monolog di dalam benak bawah sadarku meledak dalam sebuah ketetapan batin yang teramat dingin dan hampa di tengah amukan teater jahanam ini. Lihatlah sekelilingmu, Jajang. Inilah wujud asli dari rumah abadi yang selama ini disembunyikan di balik topeng kesempurnaan ayahmu. Jutaan jiwa kurus kering ini adalah orang-orang yang semasa hidupnya di dunia mungkin ikut memuja berhala kemuliaan, memelihara bual, dan menjadikanku sebagai kambing hitam pengangguran yang kurang berbakat di sepanjang gang desa. Siksaan mekanis ini adalah hukum keadilan murni yang sedang menanti kedatangan setiap jiwa bertopeng kesucian yang melarikan diri dari konsekuensi dosa mereka di atas dunia sadar.
Belum sempat aku memaksakan sepasang lututku untuk bangkit berdiri menembus lumpur nanah abadi, atmosfer di sekitarku mendadak mengalami perubahan tekanan udara yang drastis. Dua makhluk raksasa melangkah maju dari balik kepulan asap belerang, bergerak mendekati posisi tempatku terkapar dengan langkah yang teramat angkuh dan mendominasi ruang vertikal.