Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #40

BAB 40: PERTEMUAN DENGAN SANG AYAH

Rasa nyeri di punggungku, tempat sabetan cemeti berpisau algojo berkepala ikan hiu mengoyak kulit hingga memperlihatkan tulang rusuk belikat, mendadak berubah menjadi dingin yang beku. Amarah yang membakar rongga dadaku laksana bahan bakar spiritual yang menolak padam di bawah langit api abadi Alas Kelam. Aku memaksakan sepasang lututku yang melepuh untuk menegakkan raga kerdilku, berdiri tegak di atas hamparan tanah hitam berlendir yang terus memuntahkan uap belerang pekat. Langkah kakiku yang beralaskan sandal jepit putus kini terseret pelan namun pasti, menembus kabut asap kuning kehijauan, berjalan melewati jutaan jasad manusia kurus kering yang sedang digiling roda besi mekanis tanpa ada batas akhir.

Langkahku membawa jiwaku tiba di tepi sebuah koridor besar yang teramat menjijikkan; lautan nanah kental yang luas permukaannya membentang tanpa spasi kosong satu jengkal pun. Cairan kuning kehijauan itu bergolak pelan bagai bubur jahanam, memancarkan bau busuk pembusukan organik yang berkali-kali lipat lebih menyumbat paru-paru ketimbang bau di kamar mandi rumah penuh bual yang kutinggalkan. Dan tepat di tengah-tengah hamparan lautan nanah berlendir tersebut, sepasang mataku yang perih akibat siraman gerimis darah mendadak mengunci mati pada satu pemandangan yang paling kutunggu sejak malam pertama.

Di sana, sesosok manusia berdiri kaku dalam posisi terikat erat menggunakan lilitan rantai hitam besar pada sebuah tiang besi membara yang ditanam mampat ke dasar perut bumi neraka.

Pria itu berada dalam kondisi telanjang bulat, tanpa ada selembar pun kain kafan kusam atau jubah koko putih bersih yang biasa ia pamerkan untuk membius ribuan jemaah masjid desa Majalengka. Penampakan fisiknya begitu ringkih, kurus, dan dipenuhi oleh jajaran borok melepuh yang terus meletupkan cairan anyir. Wajahnya yang selama puluhan tahun dihormati keluarga sebagai berhala kesempurnaan dan figur teladan tanpa cela, kini telah hancur meleleh total laksana lilin kental yang diletakkan di atas kobaran api kompor gas. Daging pipinya menggantung hitam legam ke arah bawah, memperlihatkan struktur rahang dan tengkorak putih kekuningan yang retak-retak di beberapa bagian.

Itu adalah ayahku. Sang pemimpin sempurna yang posisinya laksana dinding raksasa yang mustahil kuraih seumur hidup.

Mantan pengkhotbah mimbar yang korup itu kini terus-menerus mengeluarkan rintihan tangis yang teredam parau dari celah giginya yang menghitam patah. Ketika raga kerdilku melangkah makin dekat ke tepi pembatas lautan nanah, kepala mayat ayah perlahan bergerak kaku menengadah ke atas. Ia memaku sepasang sisa matanya yang telah berubah menjadi putih seutuhnya tanpa kornea langsung ke arah wajahku. Di dalam pendaran bola mata kapur yang melotot tersebut, memancar sebuah ekspresi penyesalan yang teramat terlambat, bercampur baur dengan rasa ketakutan yang teramat sangat primitif seolah-olah ia sedang menanti tibanya babak pengeksekusian baru yang jauh lebih biadab bagi jiwanya yang berdosa.

Lihat selengkapnya