Ancaman dari sepasang ular sanca raksasa berkepala kobra itu tidak membuat raga kerdilku luntur dalam kepatuhan yang instan. Ketika gelombang desisan suara mereka mengguncang dinding-dinding kesadaranku di tepi lautan nanah, insting pelindungku mendadak mengambil alih kendali atas sepasang kakiku. Aku membalikkan poros tubuhku secara sentak, berusaha melarikan diri mencari celah koridor baru di antara pekatnya kabut asap belerang dan uap kuning kehijauan yang kian mampat menyumbat paru-paru.
Namun, Alas Kelam nyata tidak pernah dirancang untuk memberikan ruang penyelamatan bagi jiwa yang telah melompati batas gerbangnya. Baru saja aku melangkah lebar beberapa meter menerobos hamparan tanah hitam yang membara, jepitan sandal jepitku mendadak tersangkut kaku pada jalinan akar pohon purba yang berbentuk kerucut meruncing di atas permukaan tanah gembur. Akar-akar kelam itu meliuk kaku serupa jemari tangan raksasa yang sengaja mencengkeram pergelangan kakiku dengan sentuhan yang sedingin es kutub.
Aku terjerembab kaku ke depan, menatap lurus ke arah struktur pohon terkutuk yang tumbuh tegak laksana pilar neraka mendominasi ruang vertikal di atas kepalaku. Pohon itu tidak memiliki dedaunan hijau sejati; dari balik jajaran ranting kayunya yang lapuk sewarna es krim cokelat tua, menggantung ratusan buah aneh berbentuk palu besi yang permukaannya dipenuhi oleh duri-duri tajam yang berkarat. Detik itu juga, di bawah siraman pendaran cahaya gulungan langit api abadi, buah-buah seberat ratusan ton itu mulai jatuh berjatuhan satu per satu secara mekanis dari ketinggian hampa.
KRAK... BUMM...
Buah palu besi penuh duri itu menghantam tepat di atas kepala gundulan jutaan manusia kurus kering dan ceking yang sedang merangkak mampat di bawah pohon pembusukan tersebut. Saraf pendengaranku disergap oleh bunyi hancurnya struktur tengkorak manusia yang luar biasa padat dan kering, disusul oleh berhamburannya isi otak dan gumpalan darah pekat yang menyembur deras mengotori permukaan tanah hitam yang membara. Yang membuat jiwaku kian retak didera horor psikologis yang biadab adalah kenyataan mekanis berikutnya; bagian tubuh dan kepala yang baru saja hancur berkeping-keping itu mendadak bergerak-gerak secara mikroskopis, meliuk kaku menyatu kembali dalam hitungan menit untuk dipaksa berdiri tegak menerima hantaman palu besi penuh duri tersebut secara berulang-kali tanpa ada kata kamus selesai.
Aku menahan erangan mual yang mendesak hebat di pangkal kerongkongan, membebaskan lilitan akar kerucut dari kakiku dengan satu sentakan tenaga yang penuh dengan sisa amuk kemarahan morbid yang dingin. Aku kembali menyeret raga pucatku bergerak cepat menjauhi pilar pohon tersebut, melangkah memotong jalur sebuah koridor kolosal yang dipenuhi oleh gerombolan wanita paruh baya yang tak berdaya.