Muntahan darah pekat yang baru saja membasahi permukaan tanah hitam Alas Kelam yang membara tidak menyisakan ruang bagiku untuk mengasihani diri. Aku masih bersujud kaku di atas tanah berlendir yang terus mengeluarkan uap belerang kental, terus menguliti sisa-sisa daging di tubuhku. Di sekelilingku, jutaan jasad kurus kering masih terus menjerit histeris seiring tubuh mereka yang digiling mesin raksasa atau dilindas setrika membara. Namun, di tengah riuhnya panggung penderitaan yang tak bertepi itu, sebuah resonansi getaran mendadak merayap halus masuk ke dalam rongga kepalaku.
Ini tempat untuk mereka yang bertopeng kesucian di dunia sadar.
Suara tanpa wujud itu berbisik dengan nada yang teramat datar, lirih, namun bergaung dengan kekuatan penuh yang mendominasi seluruh urat saraf pelipisku. Bisikan gaib itu tidak menggunakan perantara pengeras suara, melainkan langsung tertanam di dalam pusat kesadaranku laksana sebuah vonis hukum keadilan murni yang mutlak. Pendengaranku membeku, memaksaku untuk mendongakkan kepala yang basah oleh cairan gerimis darah kental guna melihat teater penghakiman berikutnya yang tersaji beberapa jengkal di depan mataku.
Di atas sebuah altar semen telanjang yang membara, aku melihat sesosok pria berpenampilan necis dengan perut tambun yang luar biasa besar dan bengkak kaku. Dari sisa-sisa pakaian keagamaan yang masih melekat hancur di raganya, aku tahu pria itu adalah seorang pemuka agama lain yang sangat tersohor di kota besar semasa hidupnya di bumi fana. Di sekeliling altar tersebut, dua orang algojo bertubuh kekar tampak bergerak secara sinkron dan mekanis; mereka menancapkan sebatang paku raksasa berkarat berukuran sebesar paha manusia tepat di atas permukaan perut tambunnya, lalu memukulnya berulang-kali menggunakan gada besi yang teramat berat.
BUMM... KRAAKKK...
Setiap ketukan palu kolosal itu menghantam paku besi, kulit perut sang pemuka agama robek menganga lebar, memuntahkan tumpukan isi lambung yang teramat menjijikkan. Namun, yang keluar dari dalam perut busuknya bukan sekadar organ pencernaan manusia biasa. Jutaan pecahan kaca tajam yang berkilau keperakan serta kepingan uang emas kuno menyembur deras keluar dari dalam luka robek anatominya, berhamburan mengotori permukaan ubin tanah yang membara sebelum tubuh tambun itu kembali menyatu secara instan untuk dipukul lagi sampai ia mati rasa.