Jepitan tubuh kolosal ular sanca raksasa berkepala kobra itu kian meremas rongga dadaku hingga batas yang tidak lagi sanggup ditampung oleh susunan anatomi manusia fana. Di bawah siraman pendaran cahaya gulungan langit api abadi Alas Kelam, aku terkunci mampat dalam lilitan hitam bersisik berkilat yang seribu kali lebih dingin dari es kutub. Tulang-tulang igaku yang baru saja remuk berderak kembali tertekan ke arah dalam, memaksa sepasang bola mataku melotot lebar menahan tekanan mekanis yang luar biasa biadab.
Namun, entitas penagih utang darah itu belum selesai mementaskan upacara pengeksekusian jiwaku.
Makhluk berukuran dua puluh satu kali tubuh manusia itu perlahan menegakkan kepala kobranya tepat beberapa jengkal di hadapan wajah pucatku. Dari balik celah rahangnya yang menganga lebar memperlihatkan jajaran taring pisau silet, monster jahanam itu melepaskan satu desisan panjang yang tajam sebelum mendadak menyemburkan seonggok cairan bisa kuning kental tepat ke arah seluruh permukaan mukaku.
SLASSSH!
Rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung meledak, membakar seluruh pusat urat saraf di kepalaku dalam hitungan milidetik. Cairan bisa itu memiliki konsistensi yang teramat korosif, menyengat permukaan kulit ari wajahku dengan hawa panggang yang berkali-kali lipat lebih membara ketimbang cuaca bumi. Aku merasakan kulit, jaringan daging pipi, bibir, hingga kelopak mataku meleleh seketika, berubah menjadi cairan kental hitam legam yang mengalir jatuh ke atas permukaan tanah hitam berlendir bersamaan dengan buncahan air mata darah segar yang keluar dari sudut mataku.
Wajah suci dan berwibawa yang selama puluhan tahun ayahku pamerkan di dunia Majalengka, kini telah resmi direplika dengan tingkat kebiadaban visual yang sempurna di atas mukaku sendiri. Aku telah menjelma menjadi sesosok pesakitan neraka dengan rupa yang hancur melumer laksana lilin kental, persis seperti bayangan hitam ayah yang jam satu pagi tadi mengetuk pintu kaca rumah penuh bual kami.