Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #44

BAB 44: SUNGAI NANAH YANG MEMBAWA JIWA

Semburan amuk kemarahan yang sempat meledak di dalam sela-sela tulang dadaku mendadak diredam paksa oleh sebuah pembalikan takdir mekanis yang teramat biadab. Setelah sepasang ular sanca raksasa berkepala kobra itu selesai mengunyah dan menghancurkan seluruh susunan anatomi tubuhku berulang kali, sisa raga kerdilku yang hancur lumat laksana bubur darah kental dilemparkan begitu saja dengan satu sentakan kasar. Tubuhku yang compang-camping, tanpa kelopak mata sdan dengan wajah melumer hitam legam, terhempas jatuh meluncur ke dalam aliran sungai nanah yang sejak sore tadi bergolak pelan di bawah takhta penguasa Alas Kelam.

BLUPPP!

Cairan kuning kehijauan yang tebal dan berlendir, langsung menenggelamkan sisa-sisa wujud fisikku. Aliran sungai nanah yang kolosal itu bergerak dengan kecepatan konstan yang teramat deras, menyeret dan membawa jiwaku hanyut terombang-ambing membelah kegelapan perut bumi neraka. Udara di dalam cairan berlendir ini begitu pengap, mampat, dan sarat akan gas belerang korosif yang merangsek masuk memenuhi sisa-sisa rongga paru-paruku, memicu rasa perih yang begitu mampat hingga aku merasa seolah seluruh sel di dalam tubuhku sedang dilelehkan menjadi abu abadi.

Saat raga pucatku terapung hanyut terbawa arus jahanam, sepasang sisa mataku yang melotot putih tanpa kornea dipaksa untuk menyaksikan sebuah pemandangan makro yang teramat ngeri di sepanjang lintasan sungai. Di sela-sela gumpalan cairan nanah yang bergolak pelan, mengambang jutaan kepala manusia kurus kering yang terputus dari badannya. Kepala-kepala tak berdaya itu bergerak-gerak distorsi mengikuti arus, memaku pandangan mata kosong mereka yang hampa langsung ke arah wajah melumermu.

Tidak ada air mata yang keluar dari kelopak mereka yang rusak; yang terpancar dari tatapan semua jutaan kepala itu hanyalah seuntai kutukan yang teramat pekat. Mereka tiada henti menggumamkan rintihan parau, mengutuk nasib buruk mereka sendiri yang terikat mati pada kontrak perjanjian darah milik leluhur dan orang tua mereka yang serakah semasa hidup di dunia. Mereka adalah kawanan anak sulung dan keturunan kerdil yang senasib denganku, tumbal-tumbal tak berdosa yang garis takdir hidupnya ditukarkan demi membeli seikat uang modal usaha dan topeng kesempurnaan fana di atas bumi sadar.

Lihat selengkapnya