Hanyut di dalam pusaran sungai nanah kental yang membara tidak pernah memberikan jiwaku kesempatan untuk memulihkan sisa-sisa kesadaran. Cairan kuning kehijauan yang tebal dan berlendir itu terus menyeret raga hancurku membelah kegelapan perut bumi neraka, melewati jutaan kepala manusia kurus kering yang memaku tatapan kosong mereka ke arahku. Aroma busuk belerang dan uap anyir darah segar kian mampat mengunci sisa rongga dadaku, meremukkan seluruh syaraf ketenangan hingga aku merasa seolah-olah seluruh eksistensiku telah larut menjadi abu tak berharga. Namun, teater penyiksaan mekanis di Alas Kelam nyata selalu memiliki cara yang berkali-kali lipat lebih biadab untuk menghancurkan sisa-sisa sel otak manusia fana.
Aliran deras sungai nanah itu mendadak tersendat, membeku secara instan oleh sebuah gelombang radiasi dingin yang teramat masif. Dari balik kepekatan kabut asap kuning yang menggantung rendah di atas permukaan air, sesosok figur bervolume besar melangkah maju memotong jalur hanyut jiwaku.
Itu adalah salah seorang algojo penjagal Alas Kelam, sesosok makhluk raksasa bertubuh tegap bernyawa seukuran dua kali lipat berat tubuh manusia normal. Makhluk itu awalnya berjalan dengan angkuh memamerkan struktur otot kekarnya yang hitam legam dan jajaran sirip api yang berkibar menakutkan di sepanjang tulang belikatnya. Namun, ketika jaraknya hanya tersisa beberapa jengkal dari posisi tempat raga pucatku terapung lemas, sebuah distorsi visual yang luar biasa mengerikan mendadak merobek wujud fisiknya.
Bagian kepala makhluk yang semula menyerupai ikan hiu raksasa bersisik emas itu bergetar hebat, meliuk kaku sebelum akhirnya meleleh dan bermutasi total menjadi penampakan wajah yang teramat kukenal sejak masa remaja.
Wajah algojo itu berubah wujud seratus delapan puluh derajat menyerupai wajah ibuku sendiri. Guratan-guratan keriputnya yang kaku, sepasang matanya yang melotot merah penuh dengan pancaran kebencian mampat, hingga bentuk bibirnya yang pecah-pecah tersaji dengan tingkat kejelasan makro yang teramat presisi di bawah pendaran cahaya gulungan langit api abadi. Monster yang meminjam raga tua ibu itu mengangkat tinggi-tinggi sebilah golok raksasa berkarat yang ukurannya dua kali berat tubuhnya, mengayunkannya ke bawah dengan satu sentakan otot yang penuh dengan tenaga dendam yang pekat.
CRASHHH!