Ragaku yang telah compang-camping tanpa sepasang pergelangan tangan kini terkapar kaku di atas permukaan Altar Batu Hitam yang dingin sekaligus membara. Udara pengap di pusat inti Alas Kelam terasa kian mampat, bergolak hebat oleh kepulan asap belerang kuning kehijauan yang menyumbat seluruh pasokan sirkulasi oksigen sejati di dalam rongga dadaku. Di sekeliling perimeter altar kolosal ini, ratusan algojo penjagal bertubuh raksasa berkepala ikan hiu telah merapatkan barikade lingkaran sakral mereka, memaku sepasang mata merah darah seutuhnya langsung ke arah raga kerdilku dengan pancaran hasrat sadis yang teramat lapar.
Dari arah kejauhan, menembus kabut uap panas lautan nanah yang bergolak pelan, sosok Rusdiana—pria yang selama puluhan tahun menyembunyikan kebusukan kontrak jahanamnya di balik bilik kamar kerja yang terkunci rapat—tampak menyaksikan detik-detik penegasan eksekusi jiwaku.
Melihat anak laki-laki sulungnya yang selama ini ia rendahkan, ia sisihkan di meja makan, dan ia jadikan kambing hitam kini sedang ditidurkan di atas altar peresmian tumbal abadi, sesuatu yang menyerupai sisa kemanusiaan mendadak meledak dari dalam jiwanya yang sekarat. Ayah yang bertubuh telanjang bulat dan terikat erat pada tiang besi membara itu mengencangkan seluruh otot raganya yang membusuk, menengadah lurus ke arah langit api abadi, lalu melepaskan satu jeritan ngilu yang teramat melengking tinggi membelah kesunyian malam jumat neraka.
Jangan Jajang! Jangan ambil dia! Biar ayah yang menanggung seluruh siksaan ini! Biar ayah yang membusuk selamanya di sini, jangan seret anak sulungku!
Suara jeritan ayah meluncur parau, terbata-bata dalam desisisan ular yang sarat akan penyesalan yang teramat terlambat dan ketakutan yang luar biasa dahsyat. Lolongannya menggema keras, memantul di sepanjang dinding-dinding teater Alas Kelam seolah-olah ia sedang mati-matian menebus seluruh dosa kalimat halus harian yang dulu mematikan mental pribadiku semasa hidup di Majalengka. Namun, di dalam rahim dimensi terkutuk ini, hukum penagihan utang darah tidak pernah mengenal kamus negosiasi atau belas kasihan susulan dari seorang pecundang egois yang telah melanggar batas waktu kedaluwarsa kontraknya.
Sebelum bait kalimat kebenaran yang terlambat itu sempat selesai terucap utuh, dua orang algojo penjagal bertubuh kekar mendadak melesat gesit melompati lautan nanah, mendarat tepat di depan tiang besi tempat raga ayah terikat. Salah satu makhluk berkepala ikan hiu itu mencengkeram rahang melumer ayah dengan satu jepitan tangan yang sedingin es kutub, memaksa mulut hitamnya terbuka lebar meluapkan uap busuk belerang. Sementara algojo satunya lagi menjulurkan sebuah gunting raksasa berkarat yang ukurannya seberat ratusan ton tepat ke dalam rongga mulut sang penipu ulung.