Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #47

BAB 47: PENOLAKAN JIWA

Rasa panas yang tak terbayangkan dari simbol ular kobra bersisik ikan yang dipaksa menyatu dengan tulang rusuk dadaku mendadak menyentuh titik jenuhnya. Aliran energi kutukan jahanam yang disemburkan oleh ratusan algojo di atas Altar Batu Hitam itu seharusnya meremukkan seluruh pasokan sirkulasi jiwaku, melelehkan raga kerdilku menjadi seonggok abu tak berharga laksana tumbal-tumbal ceking lainnya di Alas Kelam. Namun, ketika radiasi panas seribu derajat itu merangsek masuk mencoba mengunci takdir akhir hidupku, sesuatu di dalam pusat kesadaranku mendadak bangkit melancarkan sebuah penolakan jiwa yang teramat besar dan dahsyat.

Jiwa Jajang Rusdiana menolak untuk hancur didera siksaan mekanis neraka.

Semua akumulasi amarah, rasa sakit mental, dan luka masa lalu akibat dihina seumur hidup oleh ibu, adik-adik, paman, bibi, hingga seisi desa Majalengka mendadak meledak serempak dalam satu detik yang sama. Ingatan tentang piring yang sengaja diisi sisa makanan dapur, tamparan keras di depan kamar kerja ayah, hingga tatapan merendahkan yang melabeli diriku sebagai produk gagal pengangguran yang kurang berbakat, seketika memadat menjadi sebuah dinding pertahanan spiritual yang teramat kokoh. Seluruh rasa sakit fisik yang dihadirkan oleh robeknya kulit dada dan borok melepuh berair di lengan kiriku, kini secara matematis berbalik poros, berubah wujud menjadi bahan bakar utama yang memicu lahirnya sebuah kekuatan baru yang berkali-kali lipat lebih meraksasa.

Aku menolak menjadi korban pasrah dari warisan dosa besar milik sang penipu ulung. Aku menolak dijadikan kambing hitamĀ  yang membusuk di dalam perut bumi hanya untuk melunasi sisa kontrak perjanjian keji milik pria yang foto wajahnya dipuja di ruang tamu rumah penuh bual yang kitinggalkan. Jika seluruh hidupku di dunia sadar telah dihancurkan oleh standar kesempurnaan palsu milik ayah, maka di dimensi Alas Kelam nyata ini, amarahku yang akan bertindak sebagai hukum penghakiman tertinggi yang akan meruntuhkan seluruh panggung pengeksekusian jahanam mereka.

Ular raksasa berkepala kobra yang berukuran dua puluh satu kali tubuh manusia, yang sejak tadi melilit seluruh tubuhku dengan jepitan yang mampat di atas altar, mendadak melepaskan suara desisan yang sarat akan kegetiran spiritual yang terkejut. Makhluk melata bersisik hitam berkilat itu merasakan sebuah anomali mekanis yang tidak wajar; tubuh kerdilku yang semula lemas compang-camping tanpa kekuatan, dalam hitungan milidetik mendadak mengeras kaku laksana bongkahan baja hitam yang memancarkan gelombang radiasi panas yang membara.

Lihat selengkapnya