Semburan darah hitam kental dari kepala ular sanca raksasa yang baru saja kurobek hingga terbelah dua masih mengalir deras, menggenangi permukaan Altar Batu Hitam dengan bau anyir yang teramat besar. Di sekeliling perimeter meja batu kolosal itu, atmosfer yang semula dipenuhi oleh hasrat sadis para penagih janji mendadak berubah poros seratus delapan puluh derajat. Menyaksikan runtuhnya sang monster pelilit yang memiliki ukuran dua puluh satu kali lipat tubuh manusia dalam satu hantaman brutal, ratusan algojo penjagal berkepala ikan hiu yang tadinya berdiri angkuh kini tampak melangkah mundur perlahan dengan tubuh kaku yang dirubung ketakutan . Sepasang mata merah darah seutuhnya milik mereka tidak lagi memancarkan kilat kelaparan; yang tersisa hanyalah kepanikan mampat melihat raga kerdilku yang kini berdiri tegak di tengah air bah darah.
Bersamaan dengan mundurnya barikade koloni monster itu, sebuah keajaiban mistis yang luar biasa dahsyat meledak dari dalam sela-sela tulang rusukku. Simbol gaib berbentuk kepala ular kobra bersisik ikan yang beberapa menit lalu ditanamkan secara paksa oleh para algojo, mendadak berhenti memancarkan rasa panas membara seribu derajat yang menyiksa jiwa. Rajah jahanam itu berubah wujud secara makro, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang teramat benderang dan pekat, bertindak bak sebuah pusaran tak kasat mata yang mulai menyedot dan menyerap seluruh pasokan energi kutukan negatif yang mengambang di sepanjang dimensi Alas Kelam.
Proses pelarutan energi jahanam itu memicu lahirnya sebuah fase transformasi akhir yang luar biasa sempurna di dalam diriku. Aku menengadah lurus ke arah gulungan langit api abadi, membiarkan pancaran cahaya keemasan dari dadaku menyapu seluruh permukaan raga pucatku. Detik itu juga, seluruh jajaran bintil dan gelembung borok melepuh berair di lengan kiriku—serta robekan daging hitam bernanah di punggungku akibat sabetan cemeti berpisau—perlahan-lahan mulai menutup, mengering, dan pulih seutuhnya dalam hitungan detak jantung.
Namun, kulit ariku yang rusak tidak kembali normal laksana kulit manusia ; jaringan dagingku yang baru mengeras kaku, bermutasi total digantikan oleh lapisan sisik legam yang tebal laksana arang baja yang memancarkan aura kepemimpinan yang teramat mutlak dan mendominasi seluruh sirkulasi udara pengap neraka. Aku tidak lagi berdiri sebagai Jajang Rusdiana si produk gagal yang kurang berbakat; aku telah resmi berevolusi menegaskan eksistensiku sebagai Penguasa Baru Alas Kelam yang memegang kendali penuh atas panggung penghakiman abadi ini.
Pikiran di dalam benak bawah sadarku bergaung liar dengan nada kepuasan. Lihatlah aku sekarang, kalian semua monster penagih utang darah! Lihatlah berhala baru yang harus kalian sembah di dalam perut bumi jahanam ini! Altar batu hitam ini tidak lagi menjadi panggung pengeksekusian jiwaku, melainkan telah menjelma menjadi singgasana kekuasaanku yang sesungguhnya. Seluruh rasa sakit mental, pengasingan , dan status benalu pengangguran yang belasan tahun meremukkan harga diriku di dunia Majalengka, kini telah selesai kubayar kontan dengan cara merebut takhta takdir jahanam ini dari tangan kalian seutuhnya.