Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #49

BAB 49: MEMBUKA JENDELA DUNIA

Rantai rantai hitam yang melilit raga tua ayahku di atas tiang besi membara kian berderit parau, menyebarkan aroma anyir daging terbakar yang kini terasa netral di balik indra penciuman baruku. Aku memalingkan wajah bersisik legamku dari sisa-sisa rintihan tanpa lidah milik sang penipu ulung, melangkah kembali menuju pusat inti wilayah Altar Batu Hitam yang telah digenangi oleh air bah darah hitam kobra raksasa. Ratusan algojo penjagal bertubuh kekar seukuran dua kali lipat berat tubuh manusia tetap memaku posisi berlutut mereka di atas ubin semen telanjang, menundukkan kepala besar berkepala ikan hiu mereka dengan kepatuhan mutlak yang mendominasi seluruh sirkulasi udara pengap neraka.

Aku mengacungkan cakar tangan kananku yang baru saja beregenerasi instan tinggi-tinggi ke angkasa, mengeratkan jemari kasarku yang kuku-kukunya telah mengeras kaku laksana belati baja. Dengan satu sentakan tenaga gaib baru yang menyerap seluruh energi kutukan dari simbol keemasan di dadaku, aku mengayunkan cakar itu ke arah depan, membelah pekatnya gulungan langit api abadi Alas Kelam yang sejak sore tadi membakar atmosfer dengan suhu seribu derajat.

CRASH!

Sebuah robekan tak kasat mata mendadak merobek gumpalan awan api abadi di atas kepala kami, memancarkan pendaran cahaya kelabu tipis yang bergerak membelah ruang hampa udara. Robekan gaib itu meluas secara konstan dalam hitungan detik, menjelma menjadi sebuah jendela dimensi yang menganga lebar, sebuah celah metafisik yang menghubungkan mataku langsung dengan koordinat dunia nyata di atas bumi sadar. Aku mengarahkan sepasang pandangan mataku yang kini telah berubah menjadi merah menyala seutuhnya untuk melihat kembali kondisi lingkungan rumah masa kecilku di desa Majalengka—sebuah bangunan sarat kepalsuan tempat di mana ibu, adik-adik, paman, dan bibiku saat ini masih berkumpul mampat menanti tibanya fajar pada penghujung hari ketujuh pascakematian ayah.

Di seberang celah jendela gaib itu, gambar interior ruang tamu rumah tua kami tersaji dengan tingkat kejelasan yang teramat kuat. Udara di dalam ruangan persegi itu terasa sangat mencekam, pengap, dan diselimuti oleh kabut keputusasaan yang luar biasa mampat. Tradisi tidur bersama di atas tikar plastik yang semula dirancang sebagai benteng pertahanan ego massal untuk merayakan kenangan kesucian sang kepala keluarga, kini telah bermutasi total menjadi sebuah neraka tersendiri bagi mental mereka yang bebal.

Lihat selengkapnya