Pendaran cahaya keemasan dari simbol ular kobra bersisik ikan yang tertanam kokoh di sela-sela tulang rusuk dadaku kian memancar pekat, memotong sisa-sisa kegelapan di pusat inti Alas Kelam. Aku berdiri tegak di atas ubin Altar Batu Hitam yang digenangi air bah darah hitam, memaku sepasang mataku yang kini telah berubah menjadi merah menyala seutuhnya ke arah celah jendela dimensi yang menganga lebar di angkasa. Fokus jiwaku terkunci mutlak pada interior ruang tamu rumah masa kecilku di desa Majalengka, sebuah sangkar sarat kepalsuan tempat di mana sisa kontrak perjanjian keji almarhum ayah harus resmi kulunasi dengan cara yang paling biadab.
Aku mengambil satu langkah maju yang bertenaga, mengacungkan cakar tangan kananku yang bersisik legam ke arah celah gaib itu. Menggunakan seluruh pasokan energi kutukan baru yang kini berada di bawah kendali mutlakku, aku melepaskan sebongkah getaran vokal yang teramat parau, dingin, dan melengking tinggi, mengirimkan suaraku melesat menembus batas antar-dimensi bumi.
Utang darah sang figur teladan belum lunas, Ibu. Kontrak jahanam milik Rusdiana malam ini telah resmi jatuh tempo.
Gema suaraku meledak dahsyat, menembus struktur dinding kayu jati ruang tamu rumah kami dengan kebrutalan audio yang tidak masuk akal. Efek mekanisnya instan dan meneror. Ibu yang saat itu sedang duduk bersandar mampat pada kaki lemari pajangan kuno mendadak tersentak bangun, kelopak matanya terbuka lebar dikelilingi oleh ketakutan yang luar biasa hancur. Ia menjerit histeris, sebuah lolongan panik yang memutus seluruh kebebalan massal paman, bibi, dan adik-adikku dalam sekejap mata ketika sepasang matanya menangkap seonggok gambar ganjil di bawah kaki mereka.
Dari balik celah-celah lubang ubin lantai keramik kuno tempat mereka menggelar kasur palembang dan tikar plastik pengungsian, mulai bermunculan belasan, lalu bermutasi menjadi ratusan ekor bayangan ular-ular kecil berwarna merah darah.