Lambaian cakar tangan kananku yang bersisik legam baru saja mengunci takdir abadi ibu di ujung lorong setrika lidah raksasa. Jeritan penyesalan parau miliknya perlahan-lahan surut, tenggelam di antara hiruk-pikuk suara mesin penggiling manusia yang terus berputar di sepanjang dataran hitam Alas Kelam. Aku tidak membalikkan kepala merah menyalaku untuk melihat ke arah mana raga gaibnya diseret oleh dua algojo berkepala ikan hiu itu. Seluruh jalinan emosi kekeluargaan, ikatan darah daging, dan sisa kemanusiaan yang belasan tahun kupertahankan di dunia sadar, kini telah resmi kedaluwarsa, menguap habis tanpa sisa di bawah pijakan sepasang kakiku yang kian mengeras kaku laksana bongkahan arang baja.
Aku memusatkan kembali seluruh fokus jiwaku ke arah atas, menatap lurus ke arah robekan vertikal tak kasat mata yang masih menganga lebar membelah ruang hampa udara di langit api.
Melalui celah jendela dimensi gaib itu, bayangan kompleks pekarangan rumah masa kecilku di desa Majalengka kian meremang buram di bawah sengatan fajar hari jumat yang tipis. Aku bisa melihat sisa-sisa reruntuhan rumah sarat kepalsuan kami yang kini telah selesai dibersihkan oleh amukan api pemurnian; tidak ada lagi tumpukan uang modal usaha, tidak ada lagi piagam penghargaan kesucian milik ayah, dan tidak ada lagi ruang keluarga tempat paman serta bibiku memelihara kebutaan massal yang menjijikkan. Yang tersisa di bumi nyata hanyalah seonggok tanah hangus berselimut ulat dan abu hitam, sebuah monumen kekalahan dari kerajaan bual yang selama puluhan tahun dibangun di atas tumbal garis takdir hidupku sejak lahir.
Aku menarik kembali seluruh pancaran kesadaranku dari dunia manusia dengan satu sentakan kehendak yang teramat dingin, kaku, dan tanpa penyesalan sedikit pun. Menggunakan tenaga gaib baru dari simbol keemasan yang berdenyut di sela-sela tulang rusuk dadaku, aku menyapu udara kosong di hadapanku, memerintahkan celah gaib di langit Alas Kelam itu untuk menutup kembali secara permanen.
SLASSSH!
Robekan dimensi itu seketika merapat parau dalam hitungan milidetik, menyatu kembali dengan kepekatan udara neraka dan memutuskan seluruh jalur komunikasi suara maupun gambar dengan bumi sadar seutuhnya. Aku tidak memiliki sedikit pun hasrat atau ego sosiologis untuk melangkah pulang kembali ke atas tanah dunia nyata tempat di mana raga kerdilku selama berpuluh-puluh tahun selalu direndahkan, diasingkan, dicaci maki tanpa perasaan, dan dianggap tidak pernah ada oleh silsilah keluarga besar maupun sosiologis masyarakat urban Majalengka. Dunia sadar di luar sana telah resmi mati bagiku, runtuh berantakan bersama dengan hancurnya patung berhala nama baik dan wibawa penuh sang ayah yang kini telah menjadi abu tak berharga di dasar liang lahat.