Dimensi ruang dan waktu di dalam rahim perut bumi Alas Kelam nyata bergerak dengan tempo yang teramat ganjil, meliuk kaku di luar batas jangkauan nalar matematis manusia. Di atas singgasana takhta batu hitam utama yang membentang angkuh di pusat dimensi, aku memaku posisi raga baruku yang telah sepenuhnya mengeras kaku bersisik legam, mengawasi keteraturan sunyi lanskap neraka yang baru saja kuubah arsitekturnya. Keabadian terasa berjalan begitu lambat di bawah kolong langit temaram November yang dingin dan kelabu, namun di seberang sana, di atas permukaan dunia sadar manusia, waktu justru melesat merangkak dengan kecepatan yang luar biasa besar.
Beberapa puluh tahun kehidupan di bumi Majalengka mengalir runtuh begitu saja, habis menguap hanya dalam hitungan beberapa kali detak jantung keemasan yang berdenyut di sela-sela tulang rusuk dadaku.
Aku tetap mempertahankan posisi dudukku dengan ketenangan penuh yang mendominasi seluruh sirkulasi udara pengap, membiarkan jasad almarhum ayahku tetap terikat telanjang bulat pada tiang besi membara di seberang aliran sungai nanah yang kini mengalir lebih tenang laksana arus air sawah di malam hari. Di sekeliling singgasanaku, ratusan algojo penjagal bertubuh kekar seukuran dua kali lipat berat tubuh manusia tetap bertekuk lutut mampat, menundukkan kepala besar berkepala ikan hiu mereka dengan kepatuhan mutlak yang menanti perintah dariku.
Hingga pada satu titik ketetapan hukum yang telah lama kunantikan, seonggok getaran energi spiritual yang teramat pekat mendadak merobek keheningan mutlak di ujung koridor lautan nanah. Pintu dimensi gaib yang membatasi rahim bumi dengan dunia sadar tampak bergetar pelan, memancarkan pendaran cahaya kelabu tipis yang menyelinap di antara pekatnya kabut embun rendah. Gelombang pusaran ektoplasma itu menandakan dengan tingkat kepastian yang teramat kuat bahwasanya ada seutas jiwa baru yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang sebuah rumah sakit tua di daerah Majalengka.
Dari balik sela-sela pusaran kabut kelabu yang memudar, sesosok jiwa manusia paruh baya tampak terlempar jatuh, mendarat dengan raga yang gemetar hebat di atas hamparan tanah hitam berlendir yang membara.
Itu adalah jiwa ibuku.