Gema suara tangis penyesalan yang melengking parau dari mulut ibuku terus memantul di antara pilar-pilar dan tebalnya kabut kelabu Alas Kelam. Wanita tua itu masih bersujud mampat, mencakar tanah hitam berlendir yang membara di bawah takhta singgasanaku dengan jemarinya yang kaku didera hawa temaram November. Air mata darah segar mengalir deras membasahi permukaan pipinya yang keriput, sebuah pertunjukan ketakutan yang luar biasa hancur setelah kesadaran nya dipaksa menerima kenyataan bahwa sosok penguasa tertinggi di dalam perut bumi ini adalah anak sulungnya sendiri.
Aku memajukan sedikit posisi ragaku yang telah mengeras kaku bersisik legam, condong maju di atas meja Altar Batu Hitam yang digenangi air bah darah. Sepasang mataku yang merah menyala seutuhnya mengunci mati pada ubun-ubun kepala ibu yang kian bergetar hebat laksana daun kering yang ditiup badai angin Majalengka. Aku menatapnya dalam keheningan yang panjang dan menindih, sebelum akhirnya mengeluarkan sebaris untaian kalimat penyambutan dengan karakter suara yang teramat parau, dingin, namun memancarkan wibawa penuh yang mendominasi seluruh sirkulasi udara pengap neraka.
Selamat datang di rumahku yang baru, Ibu.
Kalimat pendek itu terdengar begitu sederhana, menggunakan bahasa yang mengalir tanpa metafora yang rumit, namun sejatinya bertindak laksana sebilah pisau silet yang merobek seluruh sisa bual yang selama puluhan tahun kami rawat di atas bumi. Ibu tersentak kaku, mendongakkan wajahnya yang pucat pasi.
Ibu kian gencar menjatuhkan dirinya, merangkak mampat di sela-sela lumpur nanah demi mendekati kaki singgasanaku. Mulutnya yang pecah-pecah tiada henti mengucapkan kalimat permohonan ampun yang teramat serak, memohon belas kasihan dari darah dagingnya, anak yang dulu selalu ia posisikan sebagai kambing hitam di rumah penuh kepalsuan.
Jajang... maafkan Ibu, Jajang... Ampuni dosa-dosa Ibu dulu... Tolong jangan siksa Ibu di tempat mengerikan ini, Jajang...