Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #54

BAB 54: FILOSOFI RUMAH TERAKHIR

Berada di puncak keabadian yang sunyi ini, aku perlahan-lahan mulai merenungkan kembali esensi dan filosofi sejati dari sebuah tempat yang dinamakan rumah.

Batinku berputar menyusuri sisa-sisa ingatan yang telah lama membusuk di dalam lipatan masa lalu. Dahulu, selama puluhan tahun aku bernapas di atas dunia, konsep tentang sebuah rumah bagiku tidak lebih dari seonggok bangunan kayu jati tua yang berdiri kokoh di salah satu persimpangan gang desa Majalengka. Tempat itu, yang di mata masyarakat selalu dipuja laksana bait kemuliaan penuh berkah, nyatanya adalah sebuah sangkar yang sarat akan bual, kepalsuan, dan penindasan mental yang teramat keji bagi sejarah hidupku.

Di bawah atap rumah sarat kepalsuan itu, aku dipaksa tumbuh kerdil laksana seonggok noda hitam yang sengaja diletakkan di atas karpet putih bersih kehidupan ayah yang serba sempurna tanpa celah. Rumah itu adalah tempat di mana seluruh harga diriku sebagai seorang laki-laki dewasa diasingkan, dihancurkan, dan dijadikan sebagai kambing hitam untuk setiap kesialan kecil yang terjadi. Di sana, ibu menampar pipiku karena rahasia kamar kerja ayah terusik, adik-adikku menolak berbicara denganku karena menganggapku pembawa sial, dan piring nasiku selalu diisi oleh sisa makanan dapur karena kemampuanku dinilai kurang berbakat mencari kekayaan modal usaha. Rumahku di Majalengka adalah sebuah jeruji besi tak kasat mata yang terus-menerus mencekik leherku hingga aku kehilangan seluruh binar seumur hidupku.

Namun kini, setelah aku melompati batas gerbang liang lahat di malam jumat jahanam belasan hari lalu, aku akhirnya mulai memahami sebuah kebenaran yang teramat dingin dan mutlak. Aku menyadari dengan kepastian yang teramat hampa bahwasanya sebuah rumah sejati yang sesungguhnya bukanlah tempat tinggal sementara dari susunan semen, batu bata, dan palang kayu yang dibangun secara angkuh oleh sepasang tangan manusia di atas tanah permukaan bumi. Bangunan fisik di dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara murah yang sewaktu-waktu bisa runtuh dan terbakar habis menjadi ulat serta abu hitam tak berharga begitu masa kedaluwarsa kontrak darah pemiliknya menyentuh titik nol.

Lihatlah sekelilingmu, Jajang Rusdiana! Rumah sejatimu yang sesungguhnya adalah tempat ini—Alas Kelam, sebuah kediaman abadi pascakematian yang pondasinya dibangun secara jujur oleh timbangan dosa dan perbuatan nyata manusia itu sendiri semasa mereka masih tinggal di bumi. Di dalam rahim dimensi sunyi ini, tidak ada lagi ruang bagi penggunaan topeng kesempurnaan palsu, tidak ada lagi kharisma penyejuk yang membius ribuan manusia, dan tidak ada lagi bualan kesucian yang bisa disewa menggunakan mata uang persekutuan jahanam penguasa neraka. Tempat ini menelanjangi setiap manusia menjadi seadanya, memperlihatkan kebusukan daging dan nanah yang selama puluhan tahun mereka sembunyikan rapat-rapat di balik jubah koko yang putih bersih.

Di seberang aliran sungai nanah yang kini mengalir dengan tempo yang teramat tenang laksana arus air sawah di malam hari, aku memaku pandangan mataku lurus ke arah bayangan Rusdiana yang masih terikat telanjang bulat pada tiang besi membara. Wajahnya yang melumer laksana lilin kental kian membeku, memancarkan ekspresi ketakutan yang teramat sangat. Pria sempurna kebanggaan keluarga itu kini harus menetap di sana seumur hidupnya, membayar setiap detik, setiap bait tutur kata penyejuknya yang penuh bual di dunia dengan rintihan tanpa lidah yang tercekik.

Lihat selengkapnya