Keheningan di Sayap Barat malam itu terasa mencekam. Di atas ranjang luas yang kini berantakan, sang pemilik Inti Rubah itu terduduk kaku. Napasnya pendek dan panas, meninggalkan uap tipis di udara kamar yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat; insting predatornya sedang memberontak karena mangsa yang sudah berada di bawah kendalinya dirampas secara paksa.
Beberapa jam lalu, kamar ini adalah pusat dari segala kenikmatan sensorik Alengka. Kumbakarna telah kehilangan kendali diri dalam sesi yang melampaui sekadar penyelarasan biometrik. Sebagai ras Eldritch-Aeon dengan genetik rubah, setiap sentuhannya adalah perburuan yang telaten. Dimulai dari ciuman panjang yang memabukkan, ia kemudian turun menyesap leher Sita, menghirup aroma Phoenix yang membangkitkan dahaga purba di dalam darahnya.
Tangan Kumbakarna bergerak dengan keanggunan seekor predator. Ia merasakan setiap getaran halus di bawah kulit Sita saat ia meremas lembut dada wanita itu di balik kain tipisnya. Jemarinya yang sensitif menemukan puncak dadanya yang sudah mengeras. Dengan gerakan yang penuh perhitungan, ciri khas rubah yang gemar bermain dengan objek pemujaannya, ia melintir lembut puncak mungil tersebut. Erangan halus yang keluar dari bibir Sita adalah musik paling indah bagi insting Kumbakarna. Ia sudah berada di ambang batas, siap untuk menuntaskan penyatuan inti yang telah ia dambakan sejak lama.
Namun, di detik paling krusial, badai itu datang. Rahwana meruntuhkan segalanya.
Tanpa satu kata pun, Rahwana merenggut Sita. Kumbakarna masih merasakan sisa kehangatan inti sensitif Sita di ujung jemarinya saat wanita itu diangkat dalam satu tangan di depan dada bidang kakaknya. Pemandangan Sita yang bersemayam tenang di pelukan Rahwana tampak begitu pasrah sekaligus agung menjadi racun yang membakar kewarasan Kumbakarna.
"Sialan kau, Kakanda..." desis Kumbakarna. Suaranya serak, diiringi geraman rendah yang muncul dari tenggorokannya. Mata merahnya berpendar, pupilnya menyempit tajam layaknya mata rubah yang sedang mengincar balik.