ALENGKA 2.0: SURGA TERLARANG

Nara
Chapter #7

[LOG 05] ANATOMI GAIRAH SANG MAESTRO

Laboratorium pusat Alengka terkunci rapat, menciptakan semesta kecil yang hanya berisi Kumbakarna dan Sita. Pendar merah dari tabung bio-energi memantul di helai-helai rambut merah Kumbakarna yang menjuntai panjang hingga ke pinggang, membingkai wajahnya yang tampak cantik namun memiliki binar predator yang berbahaya.

Begitu pintu logam itu terkunci, Kumbakarna tidak membuang waktu. Ia mendudukkan Sita di tepi meja laboratorium yang tinggi. Kontras ukuran mereka terlihat begitu nyata; Sita tampak sangat rapuh di hadapan siluet Kumbakarna yang tinggi dan ramping.

"Kakanda terlalu kasar," bisik Kumbakarna. Suaranya halus seperti sutra namun dingin seperti es. Ia berdiri tepat di depan Sita, membiarkan rambut merahnya jatuh menyentuh bahu wanita itu. "Dia hanya tahu cara menghancurkan, sementara aku... aku ingin membedah setiap inci keindahanmu."

Dengan satu sentuhan yang presisi, Kumbakarna menarik tubuh Sita mendekat. Secara insting, kedua kaki mungil Sita langsung melingkar erat di pinggang ramping Kumbakarna, mencari tumpuan di tengah badai gairah yang mulai memuncak. Posisi ini membuat Sita terangkat sepenuhnya, bergantung pada kekuatan tubuh Kumbakarna yang ternyata jauh lebih perkasa dan kokoh dari penampilannya yang elegan.

Tangan Kumbakarna yang jemarinya panjang dan lentur kembali menemukan puncak dada Sita. Ia memainkannya dengan ritme yang artistik. Setiap lintiran dan tarikan pada inti sensitif itu dilakukan dengan ketelitian seorang maestro yang sedang memainkan instrumen paling berharga. Sita hanya bisa mendongak, napasnya terputus-putus saat Kumbakarna membenamkan wajah di lehernya, menghirup aroma Phoenix yang kini bercampur dengan wangi bunga mawar siber yang menjadi ciri khas sang Rubah.

Lihat selengkapnya