ALENGKA 2.0: SURGA TERLARANG

Nara
Chapter #8

[LOG 06] SUAKA MAWAR BIOLUMINESENSI

Kumbakarna tidak membiarkan Sita berlama-lama di atas meja baja yang dingin. Dengan gerakan yang tetap tenang namun penuh dominasi, ia menggendong Sita, masih dengan kaki wanita itu yang melingkar erat di pinggangnya menuju sebuah pintu geser di sudut laboratorium yang tersembunyi.


"Meja ini terlalu rendah untuk merayakan keindahanmu, Sita," bisik Kumbakarna di telinganya.


Pintu terbuka, menyingkap sebuah ruangan yang kontras dengan laboratorium luar. Itu adalah kamar pribadi Kumbakarna sebuah suaka yang dipenuhi dengan tanaman rambat buatan yang berpendar biru dan ribuan kelopak mawar siber merah yang tak pernah layu. Udara di sana harum aroma tanah basah dan nektar, menciptakan atmosfer yang sangat intim.


Kumbakarna merebahkan Sita di atas tempat tidur luas yang dilapisi beludru hitam. Di sekeliling mereka, bunga-bunga bioluminesensi merespons energi Phoenix Sita dengan bersinar lebih terang. Kumbakarna merangkak naik ke atas ranjang, rambut merah panjangnya yang sepinggang tergerai menutupi tubuh mungil Sita seolah menciptakan tirai sutra merah yang mengisolasi mereka dari dunia luar.


"Sekarang, tidak ada suara alarm, tidak ada Rahwana, dan tidak ada gangguan medis," suara Kumbakarna rendah, jemarinya yang lentur menyusuri garis rahang Sita sebelum kembali bermain di puncak dadanya.


Sentuhan Kumbakarna kali ini jauh lebih telaten. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati setiap getaran tubuh Sita di bawahnya. Sebagai pemilik Inti Rubah, ia tahu bahwa kepuasan sejati ada pada prosesnya. Ia kembali menyatukan tubuh mereka di tengah hamparan kelopak mawar yang tersebar di atas sprei.


Sita merasakan perbedaan yang luar biasa. Jika di kamar Rahwana semuanya terasa seperti badai yang menghancurkan, di sini bersama Kumbakarna, ia merasa seperti sedang dilarutkan ke dalam sebuah lukisan. Ritme Kumbakarna begitu presisi, seolah setiap gerakannya sudah dihitung untuk memicu saraf-saraf kenikmatan yang bahkan Sita sendiri tidak tahu ia miliki.


"Kumbakarna..." desah Sita, jemarinya tenggelam di antara helai rambut merah panjang sang Rubah. "Tempat ini... kau benar-benar gila soal estetika."


Lihat selengkapnya