Udara di dalam suaka pribadi Kumbakarna terasa berat oleh aroma mawar siber yang hancur karena pergulatan mereka tadi. Pendar tanaman bioluminensi di langit-langit kamar perlahan meredup, seolah memberikan privasi bagi dua makhluk yang masih terjalin di atas ranjang beludru hitam.
Kumbakarna tidak langsung menjauh. Dengan keanggunan seorang predator yang telah kenyang, ia berbaring menyamping, menopang kepalanya dengan tangan kanan yang ramping namun berotot. Tangan kirinya bergerak malas, menyusuri lekuk tubuh Sita yang masih gemetar halus. Setiap sentuhan ujung jarinya terasa seperti aliran listrik statis yang mencoba menyelaraskan kembali saraf-saraf Sita yang baru saja diledakkan oleh nikmat.
"Kau tahu, Sita..." suara Kumbakarna rendah, bergetar di tengah keheningan. "Alengka ini adalah tempat yang gelap. Rahwana memimpinnya dengan amarah, dan Wibisana mengaturnya dengan logika dingin. Tapi kau..."
Ia berhenti bicara sejenak. Ia menarik jemari mungil Sita, membawa punggung tangan wanita itu ke bibirnya. Ia tidak hanya menciumnya, tapi menyesap kulitnya dengan perlahan, matanya yang merah menatap Sita dengan intensitas yang nyaris membuat napas Sita kembali tercekat.
"Kau adalah anomali. Kau adalah partikel cahaya yang terjebak di dalam benteng logam ini."
Kumbakarna bergerak maju, membiarkan rambut merah panjangnya yang sepinggang menjuntai jatuh, menutupi wajah mereka berdua bagai tirai sutra merah yang sangat privat. Dalam jarak sedekat itu, Sita bisa melihat detail garis wajah Kumbakarna yang cantik namun tajam, garis rahang yang kokoh, hidung yang mancung sempurna, dan bibir tipis yang baru saja menghancurkan pertahanannya.
"Nama 'Sita' terlalu umum untukmu. Terlalu banyak orang yang memanggilmu dengan nama itu, mencoba mengklaimmu sebagai milik mereka," Kumbakarna berbisik tepat di depan bibir Sita. "Maka di sini, di bawah perlindungan mawar-mawarku, aku memberimu identitas yang berbeda. Frekuensi yang hanya akan merespons suaraku."
Jemari Kumbakarna merayap turun ke leher Sita, berhenti tepat di denyut nadi yang masih berpacu.