ALENGKA 2.0: SURGA TERLARANG

Nara
Chapter #12

[LOG 10] DISKORDANSI DUA ALPHA

Pintu laboratorium berdesis terbuka, menyemburkan uap nitrogen dingin yang langsung lenyap saat bertabrakan dengan aura panas yang dibawa oleh Rahwana. Ia berdiri di sana, menjulang tinggi dan penuh ancaman. Pakaiannya adalah perpaduan armor ringan berteknologi tinggi berwarna gelap dengan aksen merah marun di lipatan bahu dan kerah tegak. Sebuah modul kendali mikro tersemat elegan di pergelangan tangannya, memancarkan pendar biru tipis, tanda otoritas yang tidak perlu dipertanyakan. Tatapan matanya tajam dan dingin, seolah mampu memindai dan membekukan siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Sebagai abang tertua dan penguasa Alengka, kehadirannya adalah hukum yang tak tertulis.


Kumbakarna melangkah keluar dari kegelapan lab dengan keanggunan. Ia masih menggendong wanita itu di lengannya. Rambut merah panjang Kumbakarna yang sepinggang tampak sedikit berantakan, jatuh menjuntai dan menutupi bahu mungil wanita itu. Ia berjalan dengan ritme yang santai, seolah tidak peduli bahwa kakaknya sudah menunggu dengan amarah yang hampir meledak.


"Tiga jam, Kumbakarna," suara Rahwana berat, bergema rendah di sepanjang dinding logam koridor. "Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan ritual di dalam sana."


Kumbakarna berhenti tepat di depan Rahwana. Jarak mereka hanya terpaut satu langkah. Kontras visual mereka sangat nyata: Rahwana adalah baja yang kokoh dan gelap, berbalut teknologi canggih, sementara Kumbakarna adalah sutra merah yang tajam dan cantik, dengan rambutnya yang berkilauan.


"Kualitas tidak bisa diburu-buru, Kakanda," jawab Kumbakarna halus. Ia sengaja memiringkan sedikit tubuh wanita itu, membiarkan jubah putih yang menyelimutinya tersingkap, memperlihatkan rona merah yang masih tersisa di pipi dan lehernya. "Dia membutuhkan penyelarasan frekuensi yang... mendalam. Dan aku telah menyelesaikannya dengan sempurna."


Lihat selengkapnya