ALENGKA 2.0: SURGA TERLARANG

Nara
Chapter #14

[LOG 12] DEKONTAMINASI SANG ALPHA

Pintu Sayap Alpha tertutup dengan suara desis vakum yang berat, memutus segala akses dari dunia luar. Di dalam kamar yang luas itu, atmosfer terasa begitu padat hingga oksigen seolah sulit untuk dihirup. Rahwana berdiri menjulang, memancarkan aura predator yang baru saja menemukan wilayahnya diinvasi. Ia tidak lagi memberikan ruang bagi Sita untuk sekadar bernapas, apalagi berpikir.


Dengan satu sentakan yang tak terbantahkan, Rahwana merenggut jubah putih laboratorium milik adiknya yang masih tersampir di tubuh Sita. Kain sutra berkualitas tinggi itu robek di tangannya, lalu dilempar begitu saja ke lantai marmer yang dingin, teronggok tak berdaya seperti harga diri Kumbakarna yang ingin ia injak-injak malam ini.


Dia mendorong Sita ke atas ranjang sinkronisasi bio yang langsung menyesuaikan suhunya. Ia mengunci kedua tangan Sita di atas kepala dengan hanya satu tangan besarnya yang kokoh. Sita mendongak, matanya yang sayu dan sedikit berkabut bertemu dengan tatapan Rahwana yang gelap, lapar, dan penuh amarah yang terpendam. Panas tubuh Rahwana yang masif mulai merambat melalui pergelangan tangan Sita, membakar setiap jengkal kulit yang tadi sempat terasa dingin karena pengaruh aerosol-saraf mawar siber milik adiknya.


"Lihat aku, Sita," geram Rahwana. Suaranya rendah dan parau, bergetar tepat di depan bibir Sita hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napasnya yang memburu. "Rasakan siapa yang benar-benar memilikimu sekarang. Rasakan realita ini, bukan ilusi yang diberikan si pengecut itu."


Tanpa peringatan, Rahwana menghujamkan ciumannya, sebuah klaim yang brutal dan menuntut mutlak. Tidak ada kelembutan puitis atau estetika yang dilakukan sang adik di laboratorium. Rahwana adalah badai yang menghancurkan. Ia mengeksplorasi rongga mulut Sita dengan lidahnya secara agresif, seolah sedang melakukan dekontaminasi total dari sisa-sisa rasa mawar yang mungkin tertinggal di sana. Ia ingin Sita tersedak oleh kehadirannya, hingga tidak ada ruang lagi untuk memori lain.


Sita mengerang, tubuhnya melengkung secara insting saat tangan bebas Rahwana mulai menjelajah dengan posesif yang liar. Jemari Rahwana yang kuat mencengkeram pinggul Sita, menekannya agar menyatu sempurna dengan tubuhnya yang berotot keras dan panas. Tidak ada sekat. Rahwana ingin Sita merasakan setiap inci dari dominasinya.


Lihat selengkapnya