Ruang perjamuan Alengka yang biasanya megah kini terasa seperti ruang hampa udara. Obsidian hitam yang melapisi dinding seolah menyerap seluruh cahaya, menyisakan keremangan yang mencekam. Di tengah ruangan, resonansi energi Eldritch saling bertabrakan, aura Garuda Rahwana yang membara bertemu dengan gelombang psionik Kumbakarna yang dingin.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu hidrolik berdesis terbuka. Cahaya putih steril dari lorong laboratorium menyeruak masuk, memotong kabut energi gelap di dalam ruangan. Dua bayangan melangkah masuk dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan emosi di meja makan.
Wibisana memimpin di depan. Seragam Federasi Bio-Teknologi Internasional yang ia kenakan tampak tanpa cela. Namun, perhatian Rahwana dan Kumbakarna justru tertuju pada pria di belakangnya.
Pria itu adalah Dokter Ben.
Jas lab kremnya menyapu lantai dengan elegan, menutupi kemeja sutra tua di baliknya. Rambut merahnya yang panjang dikepang rapi dengan ikat emas, membingkai wajah yang menyimpan kedewasaan yang tak dimiliki oleh siapa pun di ruangan itu. Sebuah kalung emas dengan liontin Caduceus berayun pelan di dadanya. Bagi Rahwana dan Kumbakarna, Ben hanyalah asisten senior kepercayaan mendiang orang tua mereka, seorang teknisi biologis yang sudah ada sejak mereka baru saja "dipanen" dari tabung.
"Bisa kalian turunkan frekuensi menjijikkan ini?" suara Dokter Ben berat dan tenang, namun memiliki daya tembus yang sanggup meredam deru energi Eldritch di udara.
Wibisana meletakkan koper poli karbon hitamnya di atas meja obsidian. "Laporan biometrik Sita menunjukkan anomali fatal, Ben. Inti Phoenix di dalam dirinya bereaksi terhadap ketidakstabilan emosional Subjek A-01 dan B-02."
"Aku tahu, Wibisana," sahut Ben pendek tanpa menoleh. Matanya yang tajam tertuju pada Sita. Di mata Ben, wanita itu bukan sekadar subjek; dia adalah Proyek S.I.T.A, penggabungan suci antara Inti Duyung Lemuria dengan genetika Phoenix yang dirancang oleh Ibu Kaikesi.
Rahwana menggeram, taringnya memanjang saat ia menatap Ben dengan kebencian murni. "Jangan berani-berani menceramahiku, asisten tua! Kau tahu S.I.T.A diciptakan Adi-Sthapati Wiswara untuk menyempurnakan inti Garuda-Harimauku! Dia adalah hak biologisku yang direnggut takdir!"