Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #1

1994

Pagi itu, pagi dimana Aku memikirkan tentang apa yang tidak pernah Aku bayangkan sebelumya. Fikir ketakutan yang membuat-ku membawa pada kenyataan dari hal itu sendiri. Aku adalah seorang anak semata wayang dari pernikahan Papah dan Mamah-ku.

Aku adalah tipikal orang yang suka membaca dan bisa dibilang anak yang kurang pergaulan. Aku tidak terlalu suka bermain diluar bukan karena Aku tidak ada yang mau bermain dengan-ku. Jarang sekali Aku pergi bermain keluar dengan teman – temanku, karena kedua Orang tua-ku melarang dengan keras. Kedua Orang tua-ku melarang dengan keras karena mereka takut Aku terjerumus pada pergaulan yang tidak benar. Namun, semakin hari, Papah semakin mencoba untuk mempercayai-ku dalam urusan pergaulan.

Aku kelahiran 22 September 1976 di Ibu kota Jakarta, dan umur-ku 18 tahun, dan baru menduduki bangku pendidikan 1 SMA. Aku bertempat tinggalkan di Jakarta Selatan daerah sekitaran Kemang. Dan sekolah-ku di SMA 25 yang bertempatkan di daerah Jakarta Pusat.

Saat Aku beranjak remaja pada 1 SMP dulu, Aku sangat merasa terkekang dengan perlakuan kedua Orang tua-ku yang sangat membatasi pergaulan-ku. Sering merasakan kebosanan sendiri di atap rumah yang sangat luas namun, terasa sangat sempit bagi-ku yang sangat sulit untuk bermain.

Tidak jarang juga jika ada beberapa teman-ku yang mendatangi-ku kerumah, untuk mengajak-ku pergi keluar. Tapi, sebelum Aku mendengar teriakan mereka yang memanggil-ku, Mamah-ku yang terlebih dulu menghampiri mereka yang sedang menunggu depan rumah-ku. Karena memang, letak posisi kamar-ku yang berada di lantai 2 rumah, dan Mamah-ku yang selalu berada di lantai 1 rumah. Tidak heran jika ada teman-ku yang berteriak memanggil-ku, namun Mamah lah yang terlebih dulu mendengarnya.

Karena hal tersebut, seiring berjalannya waktu, Aku pun menjadi terbiasa sendirian dirumah. Berada di dalam kamar-ku yang lumayan luas dengan fasilitas yang disediakan oleh kedua Orang tua-ku.

Dengan setiap hari-nya sedari Aku merasakan bahwa ada jeruji besi tidak terlihat yang mengelilingi-ku. Dan semakin Aku beranjak dewasa, Aku tersadar bahwa yang membangun jeruji besi tidak terlihat itu adalah Mamah-ku sendiri.

Bagaimana dengan Papah-ku?. Papah-ku mempunyai pemikiran yang bisa dibilang bertolak belakang dengan Mamah-ku. Karena jika sepulang Papah dari kantor dan mendapati-ku yang berada dirumah dengan wajah yang murung, Papah pasti tahu apa penyebabnya. Papah sangat mengetahui dibalik kerutan wajah murung-ku, ialah karena perlakuan Mamah-ku yang sangat over protective terhadap-ku.

Lihat selengkapnya