Karena panggilan Mamah yang menyuruh-ku untuk ke bawah, Aku pun mulai menuruni anak tangga dari kamar-ku dengan dentuman irama jantung-ku yang hanya merasakan ketakutan dan kepanikan di setiap langkah kaki-ku.
Dan tidak terasa langkah kaki-ku pun telah sampai di hadapan Papah dan Mamah yang sudah menunggu-ku di sofa area ruang tamu rumah-ku. Papah yang sudah menatap-ku dengan tatapan yang sudah sepertinya sudah menyiapkan seribu satu pertanyaan untuk-ku. Dan karena tatap Papah-ku itulah yang membuat-ku semakin takut.
Dan benar saja, tidak lama setelah Aku berdiri di depan mereka berdua, Papah-ku mengeluarkan mulai mengeluarkan suara-nya dengan sebuah pertanyaan yang langsung menjuru pada apa yang Aku inginkan.
“Alfa, tadi Mamah Kamu sudah menceritakan beberapa masalah. Papah kira tidak perlu Papah harus memeberitahukan pada Kamu apa yang Mamah telah ceritakan. Dan Papah minta penjelasan dari Kamu sekarang.” Ucap Papah dengan telunjuk-nya yang mengarah pada-ku.
“Iyaa Pah Alfa tau apa yang udah Mamah ceritain ke Papah. Dan Alfa pun udah gatau juga mau ngejelasin dengan cara apa supaya Mamah percaya sama penjelasan Alfa. Alfa cuman bisa bilang, Alfa engga lakuin hal buruk yang Mamah fikirkan. Dan Alfa harap, Papah juga bisa percaya sama Alfa.” Ucap-ku pada Papah di depan Mamah juga dengan kepala-ku yang tertunduk.
Aku tidak berani melawan pandangan Papah yang menjuru ke arah-ku. Papah memanglah orang yang baik dan mempunyai watak yang lebih tenang jika di bandingkan dengan Mamah. Namun, Papah adalah tipikal orang yang sangat tegas. Dan karena ketegasan Papah itulah yang membuat-ku takut untuk menatap kembali pandangan Papah.
Setelah Aku berbicara yang dimana hanya pasrah saja pada apa yang sudah terjadi, Papah pun kemudian berbicara kembali.