Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #7

Teori macam apa itu!

Saat Aku telah sampai di rumah, Aku pun langsung merebahkan tubuh-ku sejenak barulah setelah itu Aku akan makan.

Dalam rebahan tubuh-ku di atas kasur kamar yang empuk, terbayang – bayang wajah dari Beta yang benar – benar membuat hati-ku terkesima. Membuat Aku telah lupa pada hubungan masa lalu-ku dengan seorang perempuan yang sangat membuat-ku patah hati.

Membuat rasa trauma-ku akan perasaan cinta menjadi subur karena paras wajah-nya yang telah membasahi hati-ku yang telah lama kering.

Tapi Aku tidak tahu dibalik paras wajah cantik-nya itu, apakah Ia juga mempunyai sifat yang cantik pula yang menyerupai wajah cantik-nya?, entah~.

Itu hanya pertanyaan yang tiba – tiba terlintas saat punggung-ku merekat pada kenyamanan dan bersandar pada luapan senyuman-nya yang terus menghantui dan memenuhi isi kepala-ku.

Selama 18 tahun Aku berjalan di atas bumi yang tiada ujung, dibawah awan yang berbaris dengan rapih di setiap harinya, dan matahari yang selalu setiap menunggu giliran tugasnya silih bergantian dengan bulan, Aku melihat manusia yang kecantikan-nya sepadan dengan para bidadari dari khayangan.

Para bidadari cantik yang sebenarnya hanya ada dalam imajinasi setiap laki – laki yang membayangkan-nya dengan gabungan dari kelebihan setiap wanita di dunia ini.

Baru hari itulah, Aku tidak membuka buku-ku untuk melihat dunia lebih luas lagi dan mencari sesuatu. Karena, hal yang sangat langka atau bahkan hanya ada satu saja di dunia ini sudah kulihat, yaitu diri-nya.

Berlarut – larut Aku membayangkan-nya sampai tidak tersadar Aku tenggelam pada ruang mimpi yang pintu gerbangnya ialah pejaman mata. Dan saat Aku terbangun, Aku sudah berada di waktu yang dimana Aku wajib untuk berada di samping-nya, namun bukan untuk menjaga-nya. Dan memang hal itulah yang menjadi kesenangan baru-ku sejak ada hadir-nya dalam pandangan kehidupan-ku.

Aku tidak perduli jika Mamah-ku melarang Aku untuk bermain. Tapi tidaklah mungkin jika Mamah-ku melarang untuk berangkat sekolah. Karena jika harus dilarang pergi ke sekolah, maka mungkin itulah kesengsaraan sejati dalam hidup-ku.

Hari kedua di saat Aku duduk disamping-nya kembali, di dalam ruang kelas yang sebelumnya sangat hampa tanpa ada warna yang menyegarkan semangat-ku. Dan warna baru itu akhirnya pun hadir walaupun hanya sesaat disetiap harinya. Tidaklah apa walaupun hanya beberapa saat disetiap hari-ku yang di dominasi pada warna hitam putih dan menjadi Abu. Tapi suatu saat, pasti akan kubuat warna itu menjadi warna yang temporer untuk kanvas kehidupan-ku dan tidak akan pernah bisa terhapus walaupun sudah tidak ada lagi oksigen di dunia ini.

Di saat hari ke dua di tingkat SMA lanjut itu, yang sekaligus menjadi hari kedua pula Aku bertemu dengan-nya. Aku pun memberanikan diri-ku untuk mencoba berbicara dan memancing suara yang membuat mata-ku sayup sendu setiap mendengar-nya berbicara, di saat jam pelajaran di hentikan sesaat oleh lonceng bel jam istirahat.

“Kriinggg . . . Kriingg . . . Kriingg.” (bunyi lonceng bel jam istirahat).

Aku melihat-nya yang seperti tidak perduli dengan jam istirahat. Karena saat itu Ia hanya terdiam dan terduduk dengan sembari mencorat – coret buku tulis-nya pada lembaran paling akhir.

Lihat selengkapnya