Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #8

Jangan sampai lolos Mang!

Disaat Ia meninggalkan-ku dan kuketahui dari ucapan-nya itu bahwa Ia ingin pergi makan ke kantin, bisa saja Aku mengejar-nya. Dan jika Ia bertanya mengapa Aku mengikuti-nya, Aku bisa bilang bahwa tidak hanya Ia saja yang lapar, tapi Aku juga lapar dan ingin makan.

Tapi Aku takut jika Aku terlalu agresif, nantinya Ia malah merasakan risih karena-ku dan menjadi merasa jijik pada-ku. Jadi, disaat Ia beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke kantin, Aku lebih memilih untuk tetap duduk di kelas dan tidak mengejar ataupun mengikuti-nya.

Karena, untuk apa juga Aku mengikuti-nya, tempat duduk-nya pun berada di sebelah-ku, Aku hanya harus menunggu lonceng bel berikutnya, yang menandakan waktu istirahat sudah habis. Dan tidak lama setelah lonceng bel tersebut berbunyi, maka pasti Ia akan langsung memasuki kelas dan kembali duduk di sebelah-ku.

Setelah baru sedikit saja Aku berbicara dengan-nya, sepertinya Ia adalah wanita yang sangat unik dan benar – benar berbeda dengan wanita lainnya. Karena dari ucapan-nya saja sudah aneh, namun sangat menyenangkan.

Menjadikan diri-ku ingin mengenal-nya lebih jauh lagi dan mencari tahu apalagi keunikan dari diri-nya. Dan tentu saja, pasti diri-nya masih menyimpan 1001 keuinikan yang benar – benar telah menjadi misteri di dalam kepala-ku. Dan menjadikan setiap keuinikan-nya itu, seperti tetesan air yang menyirami bunga di kebun cinta-ku. Semakin banyak tetesan air yang jatuh dan diserap oleh bibit bunga, maka semakin tumbuh subur bunga dan semakin hidup pula kebun cinta-ku di buat-nya.

Setelah 30 menit waktu istirahat berlangsung, akhirnya terdengarlah suara yang ku tunggu – tunggu sejak Ia meninggalkan-ku sendiri di bangku kelas-ku.

“Kriingg. . . Kriing . . .Kriingg.” (suara lonceng bel berakhirnya waktu istirahat).

Dan benar saja seperti apa yang Ku katakan sebelumnya, tidak lama setelah terdengar buncing lonceng yang menandakan waktu istirahat berakhir, pasti Beta pun akan langsung memasuki kelas.

Ia pun kembali duduk di samping-ku dengan raut wajah cantik-nya yang sebelumnya sempat cemberut karena ulah-ku.

Jam pelajaran pun berlangsung seperti biasa. Dengan Ia yang terlihat dimata-ku benar – benar serius memperhatikan Guru menjelaskan di papan tulis. Sebelumnya Aku berniat untuk menawarkan tumpangan pulang, tanpa Aku harus melihatnya menunggu sendirian di depan gerbang sekolah setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

Tapi, karena tatapan mata-nya yang memang benar – benar jelas telihat pada-ku, kalau Ia sedang serius memperhatikan Guru mengajar di depan kelas. Aku pun berfikir bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat jika Aku mengajak-nya berbicara walaupun hanya sebatas menawarkan tumpangan pulang. Akhirnya Aku pun memutuskan, nanti saja saat kegiatan belajar mengajar hari itu telah usai, dan menawarkan hal tersebut saat berjalan ke depan gerbang sekolah.

* * *

Jam pelajaran pun berakhir dengan para siswa dikelas-ku terlihat jelas wajah mereka penuh dengan kerumitan dan kebingungan. Entah mereka mengerti atau tidak atas pelajaran Matematika yang di jelaskan pada Guru-ku saat belajar sebelumnya.

Di saat jam sekolah berakhir pada hari itu dengan seluruh siswa yang dikelas-ku merapihkan buku – buku dan alat tulis lainnya di atas meja, tidaklah demikian dengan-ku.

Lihat selengkapnya