Dan ternyata benar saja, apa yang menjadikan ketakutan Mang Bari pun terjadi. Saat Aku dan Mang Bari sampai rumah, belum saja Aku dan Mang Bari turun dari mobil, terlihat Mamah-ku yang sudah menunggu di depan pintu rumah dengan wajah-nya yang Aku sangat yakin bahwa Aku dan Mang bari akan habis di ocehi oleh Mamah-ku.
Yang Aku fikirkan sebenarnya ialah Mang Bari. Jika Aku yang di omeli mungkin itu tidak menjadi persoalan untuk-ku. Karena setelah kuping-ku panas mendengar ocehan Mamah, Aku bisa saja langsung masuk ke dalam kamar-ku lalu melupakan hal tersebut. Tapi tidak sama halnya jika Mang Bari.
Karena terlihat jelas wajah ketakutan di wajah Mang Bari disaat kami baru saja sampai rumah. Dengan Mang Bari yang seketika menelan ludah di saat melihat Mamah yang sudah menunggu dengan wajah-nya yang siap untuk memarahi kami berdua.
Sebelum turun, Mang Bari pun berkata yang membuat-ku menjadi terfikirkan.
“Aduhh . . ., habis Mang Bari Den . . . Habiss. . .!!” Dengan menjedoti kepala-nya di kemudi mobil.
Aku pun tidak tahu harus mengatakan apa pada Mang Bari yang sudah ketakutan. Setidaknya untuk menenangkan sedikit fikiran-nya yang sangat takut pada ocehan Mamah yang sudah ada di depan mata.
Tapi yang pasti, sebisa mungkin Aku menjelaskan kepada Mamah yang pasti akan menyakan perihal, mengapa Aku dan Mang Bari pulang terlambat. Karena, keterlambatan waktu pulang itu bukan karena salah Mang Bari. Mang Bari yang Aku minta tolongkan untuk mengikuti kemana arah Beta dan Ayah-nya pulang. Dan memang benar – benar sepenuhnya itu adalah salah-ku, dan tidak ada sekitpun salah Mang Bari.
Karena Mang bari hanya menuruti permintaan-ku saat sepulang sekolah tadi. Dan bodohnya, Aku kurang berfikir lebih jauh lagi karena terlalu fokus untuk mengetahui dimanakah Beta bertempat tinggalkan.
Tidak lama setelah Mang Bari berbicara dengan sangat ketakutan, Aku pun langsung turun terlebih dulu. Agar Akulah yang di marahi oleh Mamah, bukan malah Mang Bari. Tapi itu hanyalah rencana yang sangat singkat Aku fikirkan.
Aku pun berjalan dan menaiki sedikit anak tangga yang ada depan teras rumah-ku. Yang dimana, Aku juga mendatangi Mamah-ku yang seperti singa sedang meunggu mangsa. Dan disaat Aku tepat di hadapan Mamah, benar saja Mamah langsung mengeluarkan kalimat pembuka yang nantinya akan menjadi landasan Ia untuk menceramahi-ku.
“Bagusss !!!, Jam segini baru pulang . . ., kemana saja Kamu ?!” tanya Mamah dengan nada yang tidak terlalu keras, namun sangat tegas.
“Tadi abis keliling sebentar Mah untuk mencari makanan.” Jawab-ku dengan alasan atas pertanyaan Mamah.
“Cari makanan?, sejak kapan kamu cari makanan di luar?” tanya Mamah kembali yang semakin membuat-ku tersudut.
Karena ucapan yang Mamah katakan adalah benar, Aku pun memaki diri-ku sendiri dengan ucapan dalam hati-ku,
“Duhhh !!! Bodooohh !!!, Mamah benar, sejak kapan Aku suka mencari makanan di luar !!” Ucap dalam diri-ku.
“Alasan apalagi yang mau Kamu katakan ?” Tanya Mamah dengan tangan menyilang di dada ke arah-ku.