Lagi – lagi saat Aku di kamar , Aku memikirkan tentang kehidupan-ku. Aku memikirkan tentang perlakuan Mamah yang terlalu mengekang kehidupuan-ku. Ibarat bagai burung dalam sangkar emas, yang juga membutuhkan hal lain dari yang Alam telah sajikan.
Aku memang menjalani kehidupan yang secara materi tidak berkekurangan. Namun tetap saja Aku tidak bisa terus menerus terjebak dalam sangkar yang mengurung-ku ini. Sangkar yang mengurung dengan dalih kasih sayang untuk tidak membiarkan-ku tersiksa akan dunia luar.
Akan tetapi, itulah hal yang membuat-ku menjadi lebih tangguh untuk menjalani kehidupan-ku di kemudian hari, tanpa Papah dan tanpa Mamah yang pasti suatu saat akan meninggalkan-ku.
Tapi karena ketakutan Mamah yang terlalu berlebihan, yang menjadikan Aku semakin jauh untuk merasakan kasih sayang Mamah yang sebenarnya.
“Jika memang Mamah seperti itu, maka Aku mungkin juga harus sedikit memberontak.” Ucapan-ku di dalam kamar yang berlarut melamun.
Tapi Aku tidak mengetahui hal apa yang harus Aku lakukan. Mungkin karena sebelumnya Aku terbiasa menurut dengan perintah Mamah yang membuat-ku kurang mengetahui dunia luar. Dunia luar yang pada seutas bagiannya harus kuketahui.
* * *
Esokan harinya, saat di sekolah Aku pun mencoba membaur bersama teman – teman kelas-ku yang lain. Bergabung pada mereka yang sedang bersendau – gurai disaat waktu istirahat berlangsung.
Sebelum-nya Aku mengira, kehadiran-ku di tengah – tengah mereka akan menjadi suatu hal yang aneh. Tapi ternyata, mereka pun menerima-ku dengan baik tanpa ada pandangan – pandangan aneh dari apa yang sebelumnya Aku fikirkan.
Saat dikelas beberapa teman-ku yang sedang berkumpul di kelas, Aku pun langsung duduk saja, dan merasa sok asik dengan sedikit basa – basi.